Halaman

    Social Items

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Aku di bikin konak oleh pembantu genit tetanggaku, Di kompleks perumahan ibuku, Tri terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Tri baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kira-kira 34D dan pantat bulat dan padat.


Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya.


Tugas Tri adalah menjaga anak majikannya yang masih kecil-kecil. Kalau sore hari, dia selalu mengajak anak majikannya berjalan-jalan sambil disuapi. Nah, aku sering sekali berpapasan dengannya saat dia sedang mengasuh Nabila (anak bungsu pasangan tempat Tri bekerja).

Cerita Sex Aku di bikin konak oleh pembantu genit tetanggaku

Nabila ini seorang anak yang lucu, sehingga kadang-kadang aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya. Suatu kali, seperti biasa aku bertemu dengan Tri yang sedang mengasuh Nabila, dan aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.


Tiba-tiba Tri nyeletuk, “Kok cuma Nabila yang dicubit Pak?”

Aku sedikit terkesiap, “Haah?” dan aku memandang kepada Tri. Game Slot Online Terpercaya


Dia sedang menatapku dengan kerlingan genit dan tersenyum menggoda.


“Habis, kalau aku cubit pipi Mbak Tri, aku takut Mbak Tri marah,” kataku.

“Kalau cubitnya pelan-pelan, aku nggak marah kok Pak. Malah seneng,” sahut Tri.


Kurang ajar anak ini, aku membatin, tapi mulai tergoda untuk memancingnya lebih jauh.


“Kalau cuma cubit aku enggak mau Tri.” kataku.

“Terus maunya apa? Emang berani?” dia malah menantang. Benar-benar ganjen anak ini.

“Aku maunya, cium bibir kamu yang seksi itu, boleh?” aku bertanya.

Dia malah balik bertanya, “Cuma cium? Enggak mau kalau cuma cium.”


Astaga, ini sudah keterlaluan.


“Tri, aku kan sudah punya isteri, emang kamu masih mau?” aku bertanya.

“Yaa, jangan sampai isteri Pak Irwan tahu dong. Masak cuma Mbak Enny aja yang boleh ngerasain Pak Irwan.” balas Tri.


Aku agak kaget juga mendengar ucapan Tri. Rupanya Enny curhat sama Tri. Tapi, kepalang tanggung pikirku.


“Jadi benar nih kamu mau Tri?” aku memastikan.

Tri menjawab, “Siapa takut? Kapan?”

“Kamu bisanya kapan Tri? Aku sih kapan aja bisa,” jawabku sambil melirik ke toketnya yang bagus itu.


Saat itu Tri pake kaos ketat yang tipis, sehingga bra hitamnya membayang dan memperlihatkan lekuk yang sangat mengairahkan. Pembaca, terus terang saat itu aku sudah “Konak”. Penisku kurasakan sudah mengeras.


“Ya sudah, nanti malam aja Pak, kebetulan Bapak-Ibu mau ke Bogor, anak-anak mau diajak semua.” kata Tri.

“Oke, nanti jam berapa aku ke rumahmu?” tanyaku.

“Yaa, jam delapanan deh,” jawab Tri sambil membusungkan dadanya.


Dia tahu aku sedang memperhatikan toketnya. Nafsuku menggelegak.


“Kamu nantang benar sih Tri, ya sudah, nanti jam delapan aku dateng. Awas nanti kamu ya.” ancamku sambil tersenyum.

Eh, dia malah menjawab, “Asal Pak Irwan kuat aja nanti malam.”


Sambil mengedipkan matanya dan bibirnya membuat gerakan mengecup. Ya ampuunn, bibirnya benar-benar seksi. Aku menyabarkan diri untuk tidak menggigit bibir yang menggemaskan itu.


“Kalau gitu aku pulang dulu ya Tri, sampai nanti malam ya.” kataku.

“Benar yaa. Jangan boong lho. Tri tunggu ya sayang..” Tri membalas.


Malamnya, jam delapan, aku sudah berada di depan pagar rumah Tri, lebih tepat rumah majikannya. Tri sudah menungguku. Dia membukakan pintu pagar dan aku langsung masuk setelah melihat situasi aman, tidak ada yang melihat. Kami masuk ke dalam dan Tri langsung mengunci pintu depan.


Tri memakai celana yang sangat pendek, dengan kaos ketat. Kulitnya cukup mulus walaupun tidak terlalu putih, namun dibandingkan dengan Enny, masih lebih putih Tri. Aku tidak mau membuang waktu, langsung kudekap dia dan kuserbu bibirnya yang memang sudah lama sekali aku incar. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling membelit, dipadu dengan nafas kami yang memburu.


Tiba-tiba Tri melepaskan ciuman kami, dan dia memegang kedua pipiku sambil menatapku, lalu berkata manja.


“Pak Irwan, kalau Pak Irwan mau ngewe sama Tri, ada syaratnya Pak.”

Aku bingung juga, “Apa syaratnya Tri?” tanyaku.

“Pak Irwan harus panggil aku Mbak, terus aku panggil Pak Irwan Yayang. Gimana? Mau nggak?” tanya Tri sambil tangannya turun ke dadaku dan dia meremas dadaku dengan gemas.


Pembaca, ini yang mengherankan, aku seorang yang sudah berusia di atas 40 tahun, punya isteri dan anak, jabatanku cukup tinggi di kantor, dan seorang pembantu rumah tangga yang berumur baru 22 tahun mencoba untuk menguasaiku, dan aku merasa senang.


Aku mengangguk sambil menjawab, “Iya Mbak, aku mau.”

Sementara itu, penisku sudah ereksi dengan maksimal.


“Sekarang, Yayang harus nurut apa yang Mbak bilang ya.” perintah Tri, maksudku Mbak Tri.

“Iya Mbak.” jawabku pasrah.


Lalu Mbak Tri menuntunku ke kamarnya di bagian belakang rumah. Kami masuk ke kamar itu, Mbak Tri menutup pintu dan sekarng dia yang memeluk dan menyerbu bibirku. Kembali kami berpagutan sambil berdiri, lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.


Mbak Tri kembali melepaskan ciuman kami, dan berkata,” Yaang, kamu jongkok dong.”


Aku menurut, aku berjongkok di depan Mbak Tri.


“Lepasin celana Mbak Yang, pelan-pelan ya Yaang.”

“Iya Mbak.” cuma itu kata yang bisa aku keluarkan.


Lalu akupun mulai menurunkan celana pendeknya yang tinggal ditarik saja kebawah karena dia memakai celana olahraga. Perlahan mulai tampak pemandangan indah di depan mataku persis. Pembaca, memeknya gundul tanpa bulu sedikitpun, dan montok sekali bentuknya. Warnanya kemerahan dan diatasnya terlihat clitnya yang juga montok. Mbak Tri melibarkan pahanya sedikit, sehingga memeknya agak terkuak. Mbak Tri mendongakkan wajahku dengan tangannya.


Dan dia bertanya, “Gimana Yang? Bagus nggak Memek Mbak?”

“Iya Mbak. Bagus banget. Tembem.” jawabku tersendat, karena menahan nafsu dalam diriku.

“Yayang mau cium Memek Mbak?” tanyanya.

“Mau Mbak.”


Aku tidak menunggu diperintah dua kali. Langsung kuserbu Memek yang sangat indah itu. Mbak Tri menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, sehingga lebih terbuka ruang bagiku untuk mencium keharuman memeknya.


Mula-mula hidungku menyentuh kelembaban memeknya, dan aku menghirup keharuman yang memabokkan dari Memek Mbak Tri. Kususupkan hidungku dalam jepitan daging kenikmatan Memek Mbak Tri.


Mbak Tri mengerang, “Aahh, Yayaanngg. Terusin Yang.”


Lalu kukecup memeknya dengan penuh kelembutan. Dan perlahan mulai keluarkan lidahku untuk menjelajahi bibir memeknya. Kugerakkan lidahku perlahan-lahan kesekeliling memeknya. Tanganku meremas-remas pantatnya. Sesekali lidahku menyapu klitnya, dan kujepit klitnya dengan kedua bibirku.


Tubuh Mbak Tri mengejang sambil mendesah, “Aarrgghh.. Yayaanngg.. Ennaakk Yaanngg..”


Kedua tangan Mbak Tri meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke belahan pahanya. Wajahku terbenam di Memek Mbak Tri, aku hampir tidak bisa bernafas.


“Yaanngg.. Tunggu Yaang. Mbak nggak kuat berdiri Yang.”


Lalu Mbak Tri merebahkan tubuhnya di kasur sambil melepaskan kaos dan branya. Dia terlentang di kasur. Aku berdiri dan ingin mulai melepas baju dan celanaku.


“Jangan Yang, kamu jangan buka baju dulu. Jilatin Memek Mbak dulu Yang.” perintah Mbak Tri. Lagi-lagi aku nurut.


Lalu Mbak Tri kembali menekan kepalaku ke selangkangannya. Kuteruskan kegiatan mulut dan lidahku di pesona kewanitaan Mbak Tri yang sangat indah kurasa. Kumasukkan lidahku ke dalam memeknya, dan kuputar-putar di dalam memeknya.


Dia menggelinjang kenikmatan. Rambutku sudah berantakan karena diremas terus oleh Mbak Tri. Sekitar sepuluh menit kujilati Memek Mbak Tri dan memberinya kenikmatan sorgawi. Akhirnya dia menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan tangannya menekan kepalaku dengan kuatnya.


“Aauugghh.. Yaanngg. Mbakk.. Kkeeluaarr Yaanngg” rintihnya.

Pantat dan pingulnya bergerak memutar dengan liar dan tiba-tiba berhenti.

“Sshh.. Oogghh.. Yaanngg.. Ennaakk banggeett Yaangg.”


Kusedot seluruh cairan yang membanjir dari Memek Mbak Tri. Rasanya gurih dan wanginya harum sekali. Kurasakan becek sekali Memek Mbak Tri saat itu. Setelah berisitirahat kurang lebih sepuluh menit, Mbak Tri bangun dan mulai membuka pakaianku.


“Sekarang giliran kamu Yang. Mbak mau gigitin kamu” perintahnya.


Setelah semua pakaianku lepas, Mbak Tri memandang ke penisku yang sudah pusing dari tadi. Dia menggenggam penisku dengan gemas dan mulai mengocoknya dengan lembut. Kemudian aku disuruhnya telentang, lalu dia mendekatkan kepalanya ke penisku. Dikecupinya kepala penisku, dan lidahnya mulai menjelajahi bagian atas penisku.


Astaga, permainan lidah Mbak Tri luar biasa sekali. Dalam sekejap aku dibuatnya melayang ke angkasa. Kenikmatan yang diberikan melalui lidah dan mulutnya, membuatku mendesah dan menggelepar tidak karuan.


Dari bagian kepala, lalu ke batang penisku dan bijiku semua dijilatinya dengan penuh nafsu. Sesekali bijiku dimasukkan ke dalam mulutnya. Sampai terbalik mataku merasakan nikmatnya. Ujung lidahnya juga menyapu bahkan menusuk anusku. Kurasakan listrik yang menyengat ke sekujur tubuhku saat lidah Mbak Tri bermain di anusku. Sepuluh menit lamanya Mbak Tri menjilati dan mengemut penis dan anusku.


Kemudian dia merayap naik ke badanku, mengangkangiku, dan mengarahkan penisku ke memeknya. Perlahan dia menurunkan pantatnya. Kurasakan penisku mulai melakukan penetrasi ke dalam belahan memeknya yang sangat montok itu. Agak susah pada awalnya karena memang tembem sekali Memek Mbak Tri. Setelah masuk semua, Mbak Tri mulai menaik turunkan pantatnya.


“Aauugghh, Mbak. Enak Mbak.” rintihku.

“Iya Yang, Mbak juga ngerasain enak. Adduuhh. Kontol kamu enak banget Yang.”


Dan Mbak Tri mulai melakukan putaran pinggulnya. Pantatnya tidak lagi turun naik, melainkan pinggulnya yang berputar. Ini benar-benar membuat sensasi yang luar biasa nikmatnya. Mbak Tri sangat pintar memutar pinggulnya. Aku mengimbangi gerakan Mbak Tri dengan menusuk-nusukan penisku.


Tapi, “Yaanngg. Kamu diem aja ya Yaangg. Biar Mbak aja yang muter.”


Akupun diam dan Mbak Tri semakin liar memutar pinggulnya. Tidak lama kemudian, Mbak Tri menghentikan putaran pinggulnya, dan kurasakan memeknya menyedot penisku. Serasa dipilin oleh gumpalan daging yang hangat, kenyal dan kesat.


Lalu Mbak Tri mengerang keras, “Yaanngg.. Aarrgghh. Mbak keluar laggii Yaanngg..”


Mbak Tri rebah di atas tubuhku, sementara memeknya terus menyedot penisku. Luar biasa sekali rasanya memek Mbak Tri ini. Kemudian Mbak Tri memberi perintah agar aku bergantian di atas. Aku menurut, dan tanpa melepaskan penisku dari dalam memeknya kami berubah posisi.


Sekarang aku berada di atas. Mbak Tri melingkarkan kakinya ke kakiku, sehingga aku tidak leluasa bergerak. Rupanya ini yang diinginkan oleh Mbak Tri, agar aku diam saja. Mbak Tri juga tidak menggerakkan pinggulnya, hanya kurasakan daging di dalam memeknya yang melakukan gerakan menyedot, memijit, memutar dan entah gerakan apa namanya.


Yang pasti aku merasakan jepitan Memek yang sangat kuat namun enak sekali. Aku tidak dapat menggerakkan penisku di dalam memeknya. Juga tidak dapat menarik penisku dari dalam Memek itu. Tidak lama kurasakan Memek Mbak Tri menyedot penisku. Lalu perlahan Mbak Tri mulai memutar pinggulnya.


Aku merasa sperti perahu yang berada di dalam lautan yang bergelora karena ada badai yang dahsyat. Dan semakin lama gelombang itu semakin kuat menggoncang perahu. Nafas kami sudah memburu, keringat sudah mengucur membasahi tubuh kami.


Dan kurasakan Memek Mbak Tri mulai berdenyut keras lagi, bersamaan dengan aku mulai merasakan desakan lahar dalam diriku yang menuntut untuk keluar dari tubuhku. Putaran pinggul Mbak Tri semakin menggila, dan akupun membantu dengan menekan-nekankan pinggulku walaupun tidak terlalu bebas.


“Oogghh.. Yaanngg.. Mbaakk nnggaakk kkuatt laaggi Yaanngg..” erang Mbak Tri.

Aku juga sudah tidak bisa menahan lagi desakan dari dalam itu, “Iyaa mbaakk.. Aakkuu juggaa.. Aarrgghh.” Situs Slot Online Terbaik


Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena saat itu muncratlah sudah cairan kenikmatanku di dalam memek Mbak Tri. Bersamaan dengan itu, Mbak Tri juga sudah mengejang sambil memelukku dengan kuatnya.


“Sshh.. Oouugghh.. Enaak baannggett Yaangg.”


Kami merasakan nikmat yang tiada duanya saat air mani kami bercampur menjadi satu di dalam memek Mbak Tri. Mbak Tri mencium bibirku, akupun membalasnya dengan penuh gairah. Dan.. Kamipun terkulai tak berdaya. Aku terhempas di atas tubuh Mbak Tri. Nafas kami tinggal satu-satu. Seprai dan kasur Mbak Tri sudah basah sama sekali karena keringat dan air mani kami yang meluap keluar dari Memek Mbak Tri saking banyaknya.


“Yayaanngg..” Mbak Tri memanggilku dengan mesranya.

“Iya mbaakk.” aku menjawab dengan tidak kalah mesranya.

“Kamu hebat deh Yaang.” kata Mbak Tri sambil mengecup bibirku dengan lembut.

“Mbak juga hebat. Memek Mbak enak banget deh Mbak.” kataku.


Mbak Tri tersenyum, “Yayang suka sama memek Mbak?” tanyanya.

“Suka banget Mbak. Memek Mbak bisa nyedot gitu. Nanti boleh lagi ya Mbak?” aku merayunya.

“Pasti boleh Yang. Memek ini emang untuk Yayang kok.” Kata Mbak Tri.


Dan malam itu, kami melakukannya sebanyak tiga kali, sampai kudengar adzan subuh dari mesjid terdekat. Lalu aku keluar dari rumah itu setelah melihat bahwa situasi aman, dan pulang ke rumahku.

Cerita Sex Aku di bikin konak oleh pembantu genit tetanggaku

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Gara gara kebiasaan ku nonton video porno mertua sendiri ku tiduri, Tidak ingin sebenernya jalinan pernikahan kami di nodai dengan kata perselingkuhan, kata-kata ini terlihat sangat tidak patut dan aib untuk keluarga kami. Apa boleh buat nafsu diriku terlalu tingi hingga imanku terbobol untuk melakukan perbuatan yang sungguh-sungguh hina dan tidak patut ditiru oleh siapa saja.


Dengan seiring berjalan waktu aku semakin tidak terkontrol, ya apa lagi kalau bukan Sex.


Itu semua karena kesalahanku karena diriku hiper sex, kebiasaan jelek yang tidak mampu aku hapus sampai sekarang yaitu menonton vidio porno. bahkan hampir seluruh gaya sex kayaknya sudah aku praktekan sesuai adegan film.Kali aja hal ini yang menjadi pemicu awal dari ketergantungan ku melakukan sex bebas maupun dengan istri sendiri.

Cerita Sex Gara gara kebiasaan ku nonton video porno mertua sendiri ku tiduri

Parahnya lagi hati kecilku ingin melampiaskan penis panjang ku ini ke berbagai jenis wanita,baik tua muda. ABG,atau masih dibawah umur.Padahal saat ini aku sudah menikah dengan wanita pilihanku, tapi karenan jadwal kerjanya yang terlalu over jadi pertemuan dengan istriku sangatlah minim. Agen Slot Online Terpercaya


pulang kerja paling istriku sudah capek. hubungan badan kadang di lalaikannya. inilah yang menjadi problem di dalam keluargaku. Bulan ini mertuaku dikabarkan akan berkunjung kerumahku.Untuk itu istriku hari ini mempersiapkan baik kamar tempat tidur dan berbagai keperluan nya selama tinggal disini.


Ini adalah kesempatan empuk bagiku, tanpa sepengetahuan istriku aku juga menikmati tubuh bahenol mertuaku, menantu gila memang aku ini, setelah anaknya ibunya juga ikut dimakan. Semua memang bagaikan surprise, kejadian ini sungguh diluar batas naluriku.


Mertuaku juga masih mempunyai gairah sex yang luar biasa bahkan istri ku sendiri kayaknya kalah dengan kemampuannya, sudah beberapa kali akhrinya aku berhasil melampiaskan sex ku kepada ibu mertuaku. Dan kali ini kayaknya,Selama satu minggu Ibu Mertuaku berada di Jakarta, hampir setiap hari setiap ada kesempatan aku dan Ibu Mertuaku selalu mengulangi persetubuhan kami.


Apalagi setelah Indri istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantor istriku, Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri.


Aku dan Ibu mertuaku tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertuaku langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Kusirami terus menerus rahim Ibu Mertuaku dengan spermaku, akibatnya fatal. Setelah istriku kembali dari Medan Bapak mertuaku minta agar Ibu mertuaku segera pulang ke Gl, dengan berat hati akhirnya Ibu mertuakupun kembali ke desa Gl.


Setelah Ibu mertuaku kembali kedesa GL hari hariku jadi sepi Aku begitu ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertuaku aku rindu jeritan jeritan joroknya, saat orgasme sedang melandanya.Pertengahan juni lalu Ibu mertuaku menelponku ke kantor, aku begitu gembira sekali Kami berdua sudah sama sama saling merindukan,


untuk mengulangi persetubuhan kami, tapi yang paling membuatku kaget adalah saat Ibu mertuaku memberikan kabar, kalau beliau terlambat datang bulan dan setelah diperiksa ke dokter, Ibu mertuaku positip hamil. Aku kaget sekali, aku pikir, Ibu Mertuaku sudah tidak bisa hamil lagi.


Aku minta kepada Ibu mertuaku, agar benih yang ada dalam kandungannya dijadikan saja, namun Ibu mertuaku menolaknya, Ibu mertuaku bilang itu sama saja dengan bunuh diri, karena suaminya sudah lama tidak pernah lagi menggaulinya, tetapi masih bisa hamil. Baru aku tersadar, yah kalau Bapak mertuaku tahu istrinya hamil, pasti Bapak mertuaku marah besar apalagi jika Bapak mertuaku tahu kalau yang menghamili istrinya adalah menantunya sendiri.


Atas saran Dokter, menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat riskan sekali bagi Ibu mertuaku untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan. Bu, apa perlu aku datang ke desa Gl? Ibu mertuaku melarang,


Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagi pula ini hanya operasi kecil.Setelah aku yakin bahwa Ibu mertuaku tidak perlu ditemani, otak jorokku langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertuaku. Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu. Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento.


Tunggu ya sayang, setelah masalah ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya.Sebelum kuakhiri percakapan, aku bilang sama Ibu mertuaku agar jangan sampai hamil lagi, Ibu mertuaku hanya tersenyum dan berkata kalau dia kecolongan.


Gila.. , hubungan gelap antara aku dengan Ibu mertuaku menghasilkan benih yang mendekam di rahim Ibu mertuaku, aku sangat bingung sekali.Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku. Hallo, selamat pagi. Pento kamu tolong ke ruang Ibu sebentar.Ternyata Bos besar yang memanggil, akupun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju rangan Ibu Mila.


Ibu Mila, wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan. Aku taksir, usia Ibu Mila kurang lebih 45 tahun, Ibu Mila seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Ibu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Ibu Mila agak gemuk.


Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya. Oh nggak.. , Ibu cuma mau Tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bp. Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?.Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan. Jawabku.


Oh.. ya.. sudah kalau begitu, Kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?. Tanya Ibu Mila.Oh nggak Bu Saya tidak apa-apa.Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakit mu.


Ah.. nggak apa-apa Bu saya sehat kok, Jawabku. Saat aku hendak meninggalkan ruangan Ibu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat Ibu Mila berkata, Makanya kalau selingkuh hati hati dong Pen, Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil.


Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh mendapatkan malu yang luar biasa. Dari mana Ibu tahu? tanyaku dengan suara yang terbata bata. Maaf Pen Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu.


Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri.


Aku marah sekali, tapi apa daya Ibu Mila adalah atasanku, selain itu Ibu Mila adalah saudara sepupu dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja, bisa bisa malah aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah.


Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu Terima kasih Bu, jawabku lirih sambil menundukkan mukaku Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK. Tentang apa Bu? tanyaku.Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak pintanya tegas.


Akupun keluar dari ruangan Ibu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Ibu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertuaku diketahui oleh orang lain.


Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya, Tanya Wilman sohibku. Ah, nggak ada apa apa Wil Aku lagi capek aja. Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu. Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Ibu Mila denger mati kamu.


Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertuaku, kasihan sekali beliau harus dikuret sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertuaku kekasihku, rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemani Ibu mertuaku, tapi apa daya Ibu mertuaku melarangku.


Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Ibu Mila, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertuaku. uh.. rasanya mau meledak dada ini. Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima.


Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.Kring.. , kuangkat telepon di meja kerjaku. Gimana? Sudah siap, Tanya Ibu Mila. Ya Bu saya siap, Ya sudah kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM pemuda. Ternyata Ibu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain.


Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya. Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Ibu Mila, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis kulihat mobil Mercedes hitam milik Ibu Mila masuk ke halaman dan parkir.


Ibu Mila pun turun dari mobil dan berjalan kearah ATM. Hi.. Pento ngapain kamu disini?, sapa Ibu Mila. Aku jadi bingung, namun Ibu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Ibu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.


Oh nggak Bu, saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga, sahutku. Ibu Mila pun bergabung antri di depan ATM. Gimana, temenmu belum datang juga? Saat Ibu Mila keluar dari ruang ATM. Belum Bu.Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah.


Aku pun berjalan kearah mobil Ibu Mila, aku duduk di depan disamping supir pribadi Ibu Mila sementara Ibu Mila sendiri duduk dibangku belakang. Ayo, Pak Bari kita pulang Iya Nya.. , sahut Pak bari Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman temanmu kamu udah pulang.Uh.. batinku Ibu Mila mulai bersandiwara lagi. Memangnya ada apa Ibu mencari saya?.


Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu OK. Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai sampai aku tidak tahu kalau aku sudah sampai dirumah Ibu Mila.


Ayo masuk, ajak Ibu mila.Aku sungguh terkagum kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Ibu Mila pun masuk kerumahnya semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Ibu Mila yang begitu antik dan mewah.


Selamat sore Nya, Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana. Baik Nya. Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem pembantu di rumah Ibu Mila. Silakan Den, ini kamarnya. Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem.


Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Kring.. , kring.. , kuangkat telepon yang menempel di dinding. Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut.


Oh.. iya Bu terimakasih. Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.


Sudah hampir jam tujuh malam tapi Ibu Mila belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku. Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan kulihat ternyata Ibu Mila yang masuk, aku benar benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Ibu Mila tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Ibu Mila datang menghampiri dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Ibu Mila, walaupun gendut tapi Ibu Mila tetap cantik.


Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku Ibu Mila berkata kepadaku, Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan. Tapi Bu, protesku.Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu.


Aku benar benar sudah tidak punya pilihan lagi, kulepas kaos yang kukenakan, kulepas juga celana pendek berikut cd ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu kututup kontolku dengan kedua tanganku. Sial!, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Ibu Mila saat itu. Lepas tanganmu Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu, bentak Ibu Mila. Mm.. , lumayan juga kontolmu. Malu sekali aku mendengar komentar Ibu Mila tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.


Nah, sekarang ceritakan semuanya.Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertuaku, mau tidak mau burungkupun bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami.


Kulihat Ibu Mila mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Ibu Mila menarik napas panjang. Tiba tiba Ibu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan, aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku.


Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Ibu Mila membuat jantungku turun naik. Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu, bentaknya lagi. Baik Bu, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Ibu Mila menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.


Ahh.. , jeritku tertahan saat mulut Ibu Mila mulai mengulum kontolku. Ahh.. Bu.. , nikmat sekali.Kuangkat kepala Ibu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, kupeluk tubuh gendut bossku. Bu.. kita pindah keranjang saja, pintaku,


Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Kurebahkan tubuh Ibu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami. Ahh.. , Jerit Ibu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya. Uhh Pento.. enak.. sayang.


Ketelusuri tubuh Ibu Mila dan jilatan lidahkupun menuju memek Ibu Mila yang licin tanpa sehelai rambutpun. Kuhisap memek Ibu Mila dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Ibu Mila sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.


Ahh, jerit Ibu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai organsmenya, aku makin beringas lidahku terus menjilati memek Ibu Mila yang sedang di kocok-kocok dua jari tanganku.


Usahaku berhasil, Ibu Mila memohon agar aku segera memasukan kontolku ke lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, kupercepat kocokan jari tanganku dilubang memek Ibu Mila, tubuh Ibu Milapun makin menegang.


Aaarrgghh.. Pento, jerit Ibu Mila tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya, Aku puas sekali melihat kondisi Ibu Mila, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, kubiarkan Ibu Mila menikmati sisa sisa orgasmenya. Kucumbu kembali Ibu Mila kujilati teteknya, kumasukan lagi dua jariku kedalam memek nya yang sudah sangat basah.


Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu, pintanya. Aku tidak memperdulikan permintaannya, kubalik tubuh telentangnya, tubuh Ibu Mila tengkurap kini. Jangan dulu Pen.. too.. Ibu lemas sekali. Aku angkat tubuh tengkurapnya, Ibu Mila pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam. Kugesek gesekan kontolku kelubang memek Ibu Mila. Kutekan dengan keras dan..


Blesss masuk semua batang kontolku tertelan lubang nikmat memek Ibu Mila. Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat. Akupun mulai mengeluar masukan kontol ku ke lubang memek Ibu Mila, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku.


Aku puas sekali, kupompa dengan cepat keluar masuknya kontolku di lubang memek Ibu Mila, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Ibu Mila dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku. Uhh.. , jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut. Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Kupompa dengan cepat kontolku, Ibu Milapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.Ahh Ibu.. aku mau.. keluar.. .


Dan cret.. cret, muncrat sudah spermaku masuk kedalam Memek dan rahim Ibu Mila, beberapa detik kemudian Ibu Mila pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Ibu Mila tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.Ibu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Ibu Mila.


Nikmat sekali.. , Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan, kulihat Ibu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Ibu Mila, air manyku masih mengalir, aku benar benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah kubuat KO. Slot Online Terpercaya


Kuciumi kembali tubuh Ibu Mila, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Ibu Mila agar telentang, kuangkat dan kukangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Ibu Mila.Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang, Lirih sekali suara Ibu Mila.


Aku sudah tidak peduli, langsung kutancapkan kontolku ke lubang nikmat Ibu Mila, Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan Ibu Mila hanya memejamkan matanya.


Kukocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek Ibu Mila.. , dan langsung ku cabut kontolku dan kumuncratkan air maniku diatas perut Ibu Mila.Karena lelah akupun tertidur sisamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil kupeluk tubuhnya, saat aku terbangun kulihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.


Bu.. Bu.. Mila bangun Bu.. . Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya. Sudah malam Bu saya mau pulang. Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi. Ibu Milapun bangkit mengenakan pakaiannya, kami berdua berjalan keluar kamar. Tunggu sebentar ya Pento, kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya, beberapa saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.


Ini untuk kamu. Apa ini Bu?, Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku. Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk menerimanya. Terpaksa kukantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.


Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar benar menikmatinya.

Cerita Sex Gara gara kebiasaan ku nonton video porno mertua sendiri ku tiduri

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Merawanin Efi Gadis Cantik Yang Masih Smp, Saya dibesarkan didalam keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita dewasa ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.


Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar porno punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi beberapa kali.


Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita seperti Ayu, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya memandang tubuh Ayu yang begitu mulus dan putih saja sudah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya.

Cerita Sex Merawanin Efi Gadis Cantik Yang Masih Smp

Apalagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya. Slot Online Terpercaya


Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.


Setelah kesempatan saya dan Ayu untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Ayu dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.


Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam payudaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Ayu sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.


Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Ayu selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atau tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayu bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.


Ayu juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Ayu sangat sering menggoda saya dengan menertawakan “kulup” saya, dan setelah beberapa minggu Ayu kemudian berhasil menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atau mengupas kulup saya sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.


Kadang-kadang Ayu juga minta “main” walaupun dia sedang mens. Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Ayu, saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.


Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan Ayu sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap payudaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka yang baru.


Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama Efi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, “Ibu main kancitan, iya..?” (kancitan = ngentot, bahasa Palembang)


Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Ayu diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan melihat Efi datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.


“Hayo, ibu main kancitan,” katanya lagi.

Lalu pelan-pelan Ayu menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan kemaluan saya .

“Efi, Efi. Kamu ngapain sih disini?” kata Ayu lemas.

“Efi pulang sekolah agak pagi dan Efi cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan sama Bang Johan,” kata Efi tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Ayu tenang-tenang saja.


“Efi juga mau kancitan,” kata Efi tiba-tiba.

“E-eh, Efi masih kecil..” kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.

“Efi mau kancitan, kalau nggak nanti Efi bilangin Abah.”

“Jangan Efi, jangan bilangin Abah.., kata Ayu membujuk.

“Efi mau kancitan,” Efi membandel. “Kalo nggak nanti Efi bilangin Abah..”

“Iya udah, diam. Sini, biar Johan ngancitin Efi.” Ayu berkata.


Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Efi bermain-main di pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang “main kancitan” segala?


Ayu mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.


“Sini, biar Efi lihat.” Ayu mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala penis saya kepada Efi. Efi datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.


Tempat tidur saya cukup besar dan Ayu kemudian menyutuh Efi untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan melihat tubuh Efi yang masih begitu remaja. Payudaranya masih belum berbentuk, hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum keluar, malahan sepertinya masuk kedalam.


Ayu kemudian merosot celana dalam Efi dan saya melihat kemaluan Efi yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Efi merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Saya mengelus-elus bukit venus Efi yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Efi menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Efi.


“Ibu, Efi malu ah..” kata Efi sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.

“Ayo, Efi mau kancitan, ndak?” kata Ayu.

Saya mengendus kemaluan Efi dan baunya sangat tajam.

“Uh, mambu pesing.” Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya “keju” yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Efi.

“Tunggu sebentar,” kata Ayu yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kemaluan Efi dengan jari-jari saya. Efi mulai membuka pahanya makin lebar.


Sebentar kemudian Ayu datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kemaluan Efi dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kemaluan Efi mulai memerah karena digosok-gosok Ayu dengan handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Efi. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Efi yang hanya berbau amis sedikit saja.


Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan menggunakan lidah saya dan Efi-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Efi kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.


Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung lidah saya, Efi menggeliat-geliat sambil mengerang, “Ibu, aduuh geli, ibuu.., geli nian ibuu..”


Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan Efi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.


“Aduh, sakit bu..,” Efi hampir menjerit.

“Johan, pelan-pelan masuknya.” Kata Ayu sambil mengelus-elus bukit Efi.

Saya coba lagi mendorong, dan Efi menggigit bibirnya kesakitan.

“Sakit, ibu.”


Ayu bangkit kembali dan berkata,”Johan tunggu sebentar,” lalu dia pergi keluar dari kamar.

Saya tidak tahu kemana Ayu perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kemaluan Efi dan sambil memegang batang penis, saya mempermainkan kepalanya di clitoris Efi. Efi memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.


Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Ayu yang longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Efi yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Efi mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, “Aduuh..!” Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Efi masih tetap kesakitan. Situs Slot Online


Sebentar lagi Ayu datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kemaluan Efi. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Efi. Terasa licin memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Efi meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.


Saya melihat Efi menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang penis saya pelan-pelan.

“Cabut dulu,” kata Ayu tiba-tiba.


Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Efi. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Ayu kembali melumasi penis saya dan kemaluan Efi dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk kedalam lobang Efi yang sedang menunggu.


Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Efi. Aduh nikmatnya, karena lobang Efi betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Efi. Efi yang masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Ayu, ibunya sendiri.


Efi belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi dari Efi yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh Efi yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.


Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping Efi. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayu sudah terangsang lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.


Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Ayu sepuas-puasnya, sementara Efi menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Saya sudah mengenal kebiasaan Ayu dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun Ayu kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Ayu. “Alangkah lemaknyoo..!” saya berteriak dalam hati.


“Ugh, ibu kentut,” kata Efi tetapi Ayu hanya bisa mengeluarkan suara seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.


Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Efi. Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Ayu terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu.


Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Ayu.

Cerita Sex Merawanin Efi Gadis Cantik Yang Masih Smp

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Merawanin Pacarku Yang Binal, Diа аnаknуа ѕuреl, рintеr, саntik dаn mеmрunуаi bоdу уаng арik ѕеrtа muluѕ dеngаn ukurаn brа 36b. Aku mеnjаlаni mаѕа расаrаn dеngаn Wulan kurаng lеbih ѕеlаmа 3 bulаn. Aku ѕukа bеrtukаr рikirаn dеngаn расаrku tеntаng bеrbаgаi mасаm hаl tеrmаѕuk hаl уаng bеrbаu ѕеkѕuаl.


Kаrеnа реngеtаhuаn ѕеx ku luаѕ jаdi аku biѕа mеnjеlаѕkаn bеrmасаm2 iѕtilаh, Pоѕiѕi, ѕеrtа tеmраt2 dimаnа kеgiаtаn bеjаd itu еnаk untuk dilаkukаn kаrеnа аku ѕеring mеlihаt film bоkер n mеmbаса buku2 tеntаng ѕеx.

Cerita Sex Merawanin Pacarku Yang Binal

Suаtu hаri расаrku аku аjаk kе rumаhku. Kеbеtulаn wаktu itu ѕеkоlаh bаru ѕаjа ѕеlеѕаi mеngаdаkаn ujiаn аkhir.


Aku bеrtаnуа “Wulan kаmu tidаk kе rumаh ku ѕеkеdаr mеngоbrоl”.

Wulan mеnjаwаb “аku mаu2 ѕаjа kаlаu di rumаh kаmu tidаk аdа оrаng”.


Aku lаngѕung сurigа kеtikа Wulan bеrkаtа ѕереrti itu. Kеbеtulаn rumаhku ѕiаng ini lаgi tidаk аdа оrаng kаrеnа ѕmuа kеluаrgаku ѕеdаng аdа undаngаn kе реrkаwinаn ѕаudаrа di ѕukаbumi. Jаdi di rumаhku hаnуа аdа реmbаntuku ѕаjа. Game Slot Online Terpercaya


Lаlu аku mеmbаlаѕ “Yа ѕudаh kitа bеrаngkаt ѕеkаrаng уаh kе rumаhku”.


Sеѕаmраinуа di rumаhku аku lаngѕung mеngаjаk diа kе kаmаrku уаng tеrlеtаk di lаntаi аtаѕ. Aku mеnуаlаkаn kоmрutеrku dulu untuk mеndеngаrkаn lаgu dаri winаmр. Sеdаng расаrku kе kаmаr mаndi untuk gаnti bаju dаn buаng аir.


Kеtikа diа kеluаr dаri kаmаr mаndi аku tаkjub mеlihаt раkаiаn уаng dikеnаkаn оlеh Wulan расаrku itu. Dеngаn tаnk tор bеrwаrnа hitam diраdu dеngаn jаkеt tiрiѕ dаn сеlаnа jеаnѕ.


Aku bеrtаnуа kераdа Wulan “kоk kаmu tumbеn раkе bаju уg ѕеdikit kеbukа ?”.


Diа hаnуа tеrѕеnуum mаniѕ dаn duduk di раhаku. Aku lаngѕung tеrаngѕаng kеtikа Wulan duduk diраngkuаnku dеngаn раkаin уаng ѕереrti itu dаn wаngi tubuhnуа mеnggеlitik bulu hidungku.


Aku bеrbаѕа bаѕi “jаkеt kаmu dilераѕ аjа kаn сumа аku уаng biѕа ngеliаt kаmu”.

Dibukаlаh jаkеt itu dаn mulаi tеrlihаt tubuh ѕintаl bеrwаrnа kесоklаtаn itu.


Lаngѕung ѕаjа аku сium lеhеr bеlаkаngnуа. Lаlu аku tiuр dаn jilаt tеlingаnуа ѕереrti mеnjilаt iсе сrеаm. Aku rаѕа diа jugа tеrаngѕаng dеngаn реrbuаtаnku itu. Diа bеrbаlik bаdаn kеаrаhku ѕеhinggа wаjаhku bеrtеmu dеngаn wаjаhnуа.


Diа bеrkаtа “ih gеli tаu digituin”.


Aku hаnуа tеrѕеnуum ѕаjа. Aku lаlu mеnсium bibirnуа уаng mеrаh dаn tiрiѕ. Tеrnуаtа diа mеmbаlаѕ сiumаnku. Lаlu аku bеrѕilаt lidаh dеngаnnуа. Tеrnуаtа wаlаu diа bаru реrtаmа kаli bеrсiumаn tарi ѕudаh mаhir mеngikuti irаmа реrmаinаn bibirku.


Mungkin kаrеnа ѕеring аku jеlаѕkаn раnjаng lеbаr tеntаng hаl itu. hеhе… Sеlаmа kurаng lеbih 3 mеnit itu аku mеlаkukаn frеnсh kiѕѕ dеngаn diа diаtаѕ bаngku. Diа tаmраknуа kurаng рuаѕ hаnуа dеngаn frеnсh kiѕѕ. Lаlu diа bеrtаnуа mеnаntаngku ѕаmbil digеѕеk gеѕеkаnnуа раntаtnуа tераt diаtаѕ kоntоlku..


“kаtаnуа kаmu mаhir dаlаm ѕеkѕ соbа kаmu buаt аku tеrkеѕаn dеngаn реrmаinаnmu ?” Kоntоl ku lаngѕung mеngеrаѕ dаn mеnеgаng ѕеkеtikа.


Aku аjаk ѕаjа diа kе kаѕur. Dеngаn роѕiѕi tidurаn ѕаling bеrhаdараn kаmi mеlаkukаn frеnсh kiѕѕ lg tр kаli ini diѕеrtаi dеngаn tаngаn2ku уаng bеrgеrilуа mulаi dаri tubuh bаgiаn аtаѕnуа. Tеrdеngаr bunуi аir liur dаn kесuраn kеduа bibir kаmi. Pеrlаhаn аku turunkаn tаli tаnktор itu аgаr tеrlihаt рауudаrаnуа. Tарi diа mеnghеntikаn реrmаinаn ѕеbеntаr lаlu bеrtаnуа ѕаmbil bеrсаndа…


“еitѕ mаu liаt tоkеtku ?” Aku mеngiуаkаn реrtаnуааn Wulan.


Tеrbukаlаh bаgiаn аtаѕ tubuh Wulan dеngаn рауudаrа уаng mаѕih раdаt dаn mоlеk. Sаmbil mеlаlukаn frеnсh kiѕѕ аku mеmаinkаn рауudаrа nуа dеngаn mеrеmаѕ2 dаn mеmеnсеt рuting ѕuѕu рауudаrа расаrku dеngаn kеduа tаngаnku.


Diа tаmраk ѕеdikit ѕаkit tарi еnаk dеngаn реrbuаtаnku itu. Lаlu аku mеnjilаti рауudаrа dаn mеnggigit рuting ѕuѕunуа. Lаgi2 diа tаmраk еnjоу tаnра bеrbuаt ара2 ѕеlаin mеndеѕаh nikmаt

“аhh еnаk, tеruѕin аjа уаh”.


Kаrеnа diа tаmраk mulаi hоt tаngаnku mulаi mеnggеrаnуаngi bаgiаn bаwаh tubuhnуа ѕеmbаri mеnjiаlаti рауudаrаnуа. Kаrеnа Wulan mеnggunаkаn сеlаnа jеаnѕ аku ѕuѕаh mеmаѕukkаn jаri2ku kе dаlаm liаng vаginаnуа. Pеrmаinаn bеrhеnti ѕеjеnаk.


Aku bеrtаnуа “Kаmu уаkin nggа mаu mеlераѕ gеlаr реrаwаnmu раdаku ? Kаlо mаu kitа bеrduа bugil ?”

Diа mеngаngguk реrtаndа diа mаu.


Akhirnуа kаmi bеrduа mеlераѕkаn раkаiаn kаmi dаn kаmi ѕаling mеmаndаng mеngаgumi tubuh kаmi mаѕing2. Wulan dеngаn tubuhnуа уаng аduhаi dаn аku уаng tubuhnуа ѕеdikit gеmuk dаn рutih. Kаmi kеmbаli kе kаѕur untuk mеlаnjutkаn реrtеmрurаn.


Kаmi mеlаkukаn kiѕѕing lg ѕеmbаri tаngаnku bеrmаin di liаng vаginа dаn рауudаrаnуа. Aku mаѕukkаn kеduа jаri tаngаn kаnаnku kе liаng vаginаnуа dаn саirаn hаngаt tеrаѕа di dlm vаginаnуа. Aku mеngосоk ѕеmbаri mеmbоrbаrdir vаginа Wulan dеngаn kеduа jаriku itu.


Diа tеrаѕа lеbih hоt kаli ini wаlаu hаnуа mеndеѕаh tidаk bеrѕuаrа. Tарi ѕkаrаng Wulan ѕudаh bеrаni mеmеgаng kоntоlku wаlаu tаk bеgitu bеѕаr.


Lаlu аku bеrkаtа “еhh ѕау kitа gаnti роѕiѕi аjа уu jd роѕiѕi 69 ?” Wulan mеngаngguk lg.

Kаmi аkhirnуа bеrtukаr роѕiѕi dаn wаh tеrlihаt jеlаѕ vаginа Wulan уаng mѕh ѕеmрit dаn wаngi ditutuрi bulu2 jеmbinуа уg lеbаt.


Aku mеnjilаti ѕаmbil mеmаinkаn jаriku di vаginаnуа ѕеdаngkаn Wulan bеrkаrаоkе dibаwаh. Aku gigit ѕеѕеkаli bibir vаginаnуа dаn Wulan рun mеmbаlаѕ dеngаn mеnggigit bаtаngku.


“аww ѕаkit tр еnаk dе…. аhh…Angga tеruѕin…. аhhh !!!”


Tibа2 саirаn hаngаt dаri vаginа Wulan kеluаr kаrеnа rеflеk аku tеlаn саirаn itu ѕаking еnаknуа di kаrаоkе. Kоntоlku jugа mеnjаdi ѕаntараn уg lеzаt bаgi Wulan. Wulan mеngulum dаn mеngосоk kоntоlku ѕереrti ѕеоrаng аhli ѕеx. Mаntаb rаѕаnуа. Slot Online Terpercaya


Sеlаmа 10 mеnit kаmi mеlаkukаn роѕiѕi 69 Wulan bеruсар

“Rio, аku реngеn nуоbа dimаѕukkin dоng.”


Aku sangat bеrѕеmаngаt ѕekаli Wulan bеrkаtа ѕереrti itu. Aku lаngѕung mеngаngkаt Wulan kеаtаѕ tubuhku dаn mеnеmраtkаn vаginаnуа tераt diаtаѕ kоntоlku. Wаlаu аgаk liсin tарi kоntоlku lаngѕung mаѕuk di lubаng vаginаnуа. Wulan mеnjеrit kеѕаkitаn..


“оuсh реrih Rio… kаmu араin niе ?”

аku mеnjаwаb “tеnаng kаn bаru реrtаmа kаli jаdi аgаk ѕuѕаh mаѕuknуа.”

Wulan hаnуа mеndеѕаh lg ѕеdаng аku mеnаmbаh kесераtаnku nаik turun ѕеmbаri mеrеmаѕ2 рауudаrаnуа.


“uuh аhh оuсh ihh ѕаkit ѕаkit… еnаk…. uuh…” Wulan ѕudаh tаmраk lеmаѕ.

Aku ubаh роѕiѕiku dеngаn роѕiѕi tubuh Wulan mеnungging dаn аku bеrаdа diаtаѕnуа. Lаgi2 аku mеngаtur kесераtаnku аgаr ѕtаbil.


Wulan hаnуа mеnjеrit dаn nikmаt. Lаlu аku bеrtаnуа

“kаmu udаh mаu оrgаѕmе blum ?”

Wulan mеnjаwаb “аku bеntаr lg nih kауаknуа mаu kеluаr.”


Aku lаngѕung mеngаntiѕiраѕi hаl itu. Aku аjаk diа duduk ѕаling bеrhаdараn mаѕih dеngаn kоntоlku уаng bеrаdа didаlаm vаginа. Dеngаn bеgini kаn раѕti lеbih еnаk jеlаѕku. Kаrеnа diа ѕudаh mаu kеluаr аku реrсераt ѕаjа gеrаkаnku. Sаmbil сiumаn dаn tаngаnku уg mеrеmаѕ рауudаrаnуа аku tеruѕ mеmреrсераt gеrаkаnku.


“аhh Rio… оh уеаh… tеruѕ Rioo…”, kаtа Wulan.

Lаlu аku mеrаѕаkаn vаginа Wulan ѕереrti mеnуеmрit dаn аdа саirаn hаngаt уg mеnуеntuh kоntоlku.

“аduh аku kеluаr jugа dеh Rio аkhirnуа”, kаtа Wulan. Aku hаnуа mеngiуаkаn dаn mеlаnjutkаn реrmаinаn раnаѕ kаmi.


Sеtеlаh bеbеrара lаmа kаmi bеrmаin роѕiѕi itu kаmi gаnti роѕiѕi lаgi. Kаli ini dеngаn tubuh Wulan уаng tеrbаring dibаwаh kаrеnа lеmаѕ dаn аku bеrаdа diаtаѕ. Kаki аku mеnеkuk dаn kаki Maya di рundаkku ѕеhinggа lubаng vаginа Wulan tеrbukа. Aku соblоѕ lg vаginа Wulan..


“аhhhhhh uuuuuuhhhhhh еnаааааааkkk уеаааааh…..”


Aku tаrik ulur kоntоlku реlаn2 kаrеnа аku mеlihаt mukа Wulan уаng ѕudаh tеrkulаi lеmаѕ tаk bеrdауа. Aku kаѕihаn ѕаmа Wulan kаrеnа ini аdаlаh реngаlаmаn реrtаmаnуа. Jаdi kuрikir аkаn kuhеntikаn ѕаjа реrmаinаnku ini.


Kаn mаѕih аdа hаri еѕоk рikirku. Kаrеnа аku bеlum kеluаr аku mеnуuruh Wulan mеngulum dаn mеngосоk kоntоlku. Bеbеrара mеnit kеmudiаn саirаn ѕреrmаku аkhirnуа kеluаr di dаlаm mulut Wulan.


“mаntаb banget Lann…”, рujiku.

Kаmi bеrduа аkhirnуа tеrtidur lеlар ѕеlераѕ mеlаkukаn реrbuаtаn bеjаd itu dеngаn tubuh kаmi bеrduа уаng mаѕih tеlаnjаng.


Tаk tеrаѕа hаri ѕudаh mеnjеlаng mаghrib, kаmi tеrbаngun dеngаn tubuh уаng tеlаnjаng dаn mаndi bеrduа. Sеtеlаh itu аku аntаr diа рulаng kе rumаhnуа tераt ѕеbеlum kеluаrgаku dаtаng. Mеmаng реrmаinаn itu mеruраkаn реngаlаmаn реrtаmа bаgi diа tарi tidаk bаgi аku.


Sеtеlаh kеjаdiаn itu kаmi ѕеring mеlаkukаnnуа di rumаhnуа аtаu di mоbil dаlаm wаktu реrjаlаnаn. Tеntu ѕаjа реrmаinаn Wulan ѕkаrаng ѕudаh mеngаlаmi kеmаjuаn.

Cerita Sex Merawanin Pacarku Yang Binal

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Menikmati tubuh istri teman sendiri yang luar biasa bohai, Sahabat baruku adalah seorang fotografer amatiran, meski demikian asap dapurnya bergantung penuh dari hasil fotonya. Hebat juga dengan bermodalkan camera 3 biji dia bisa menghasilkan gambar gambar yang indah2. cukup mengherankan karena dia belum terkenal tetapi kehidupannya cukup mewah, setidak tidaknya 1 BMW meski bukan seri terakhir berdampingan dengan kijang yang sering dipakai dia untuk keliling mencari bahan obyek fotonya.


Istrinya Laura sungguh cantik, sangat fotogenic, tetapi aku lebih melihatnya sebagai wanita sensual dan menggairahkan. Jujur saja aku sering main ke rumahnya dengan alasan ingin tahu lebih jauh dengan fotografi, tetapi sebenarnya aku suka melirik tubuh indah istrinya.


Karena sudah cukup dekat akhirnya dia mengakui bahwa dia menyuplai foto foto yang berkategori soft X untuk konsumsi majalah luar negeri. Luar negeri sangat menyukai tubuh wanita asia karena berkulit lebih bersih dan terlihat sehat, warna coklatnya sangat erotik dimata para bule itu.

Cerita Sex Menikmati tubuh istri teman sendiri yang luar biasa bohai

Suatu ketika aku diajaknya ke studio pribadinya untuk membantu mengambil gambar soft X ini dengan alasan aku bisa belajar teknik pencahayaannya. Rupanya model pria yang dia pakai adalah bule Australia. Dan model wanitanya adalah istrinya sendiri !!! 


Aku sempat bingung melihatnya, dan Adi tersenyum melihat wajahku yang bertanya Tanya. :” hehehe jangan kaget Don, istriku Cuma bergaya di depan kamera saja, gak ada coitus dan lagi di foto nanti tidak menunjukkan alat vital sama sekali. Istriku pakai alat pelindung begitu juga si cowok. Yang penting disini adalah art-nya. Kamu harus bisa melihat dari sisi Art-nya….ok ?

Aku heran banget, bagaimana mungkin dia nggak cemburu. Situs  Slot Online Terpercaya


“Mas memang gak pernah cemburu aku berakting seperti itu, kalo aku sendiri sih ok ok saja. Toh itu cuma untuk art. Dan lagi aku seneng seneng aja di peluk peluk sama cowok cakep kayak gitu…bener kan honey ? Kata Laura sambil mengedipkan mata kirinya ke Adi suaminya.


“Ok Laura come on, kamu harus segera bergaya seperti yang udah kita diskusikan tadi pagi.”

Teriak Adi kepada Laura yang dengan segera melepas pakaiannya di depanku. Terasa wajahku panas karena aku nggak terbiasa melihat wanita bugil terang terangan di depanku.


Dengan tidak canggung, Laura menarik si bule, dan dengan tenang Laura memegang kemaluan si bule, sebenarnya lebih tepat meremas batangnya dan bergaya seakan akan siap meng oral nya. “ Action !!” beberapa kilatan lampu blitz menyadarkan aku untuk segera mengatur posisi.

Posisi selanjutnya Laura ber doggy style, sementar batang raksasa si bule di arahkan ke miss V nya yang sungguh indah. Posisi posisi selanjut sungguh membuat aku mupeng… pusing.

Heran banget Adi sama sekali nggak cemburu.


“Ayolah …ini Art…kamu harus bedain Art dengan pornografi “ Adi berulang kali menjelaskan. Art apaan…menurutku ini pornografi juga.


Don, gue perlu model cowok asia, kayaknya kamu cocok deh, badanmu lumayan bagus, tampong loe juga gak mengecewakan. Loe mau kan ? Dan tampang asia lagi tren di Eropa. Gue lagi banyak orderan, Cuma sampe sekarang belum dapat model cowok yang cocok. Gak ada salahnya loe coba….

F(bip)k…umm aku gak pernah nyentuh cewek Di..ah elu ngapain sih nawarin gue…dan lagi gue gak enak dong sama Laura…”


“Mas Don mikirnya ngeres sih..kan kita nggak ngapa ngapain…kita coba aja ya yuk..”Laura langsung narik tanganku.


Tapi kalo bisa jangan terlalu banyak crew, gue belum terbiasa berbugil ria didepan orang meski cowok.


“Nggak kok Cuma kita bertiga aja, lampu kan bisa kamu yang ngatur, gue mah cuma jepret jepret aja..”Kata Adi.


Gila eh…tempat tidurnya romantis banget, interiornya bener bener sangat mendukung adegan adegan yang bakal kami lakukan.


“Eh Laura…sorry…ummm jujur neh gue belum pernah deket cewek, selain itu gue cowok normal, coba lihat aja belum apa apa punya gue udah berontak neehh “ Bisikku.

“Yeee masih perjaka neeh ceritanya “ Goda Laura, “tenang mas, nanti aku ajarin biar gak blingsatan itu si imut…eh salah ding, si imut ternyata besar juga ya.lebih besar dari punya mas Adi.”


Aku nyengir, merasa wajahku memanas.

“Action !!” Teriak Adi dari teras kamar. Entah mengapa Adi mengambil sudut nya jauh sekali. Mungkin dia ingin seluruh interior masuk ke dalam frame gambar, atau dia ingin fotonya berbingkai pintu kamar, entahlah…


Sesuai skenarion yang sudah kami diskusikan aku mulai mengambil posisi, Laura tidur di atas tempat tidur sementara aku memegang kedua pahanya, berpura pura bercinta dengan gaya konvensional. 2-3 adegan yang mengalir benar benar membuatku pusing, terlebih akting Laura sungguh natural. Terkadang dengan sengaja dia menyentuh atau meletakkan kepalanya di pahaku dan bibirnya Cuma berjarak 5 cm dari pangkal batangku. Terus terang aku setengah mati menahan agar tidak muncrat. Tapi tentu saja itu tidak bisa bertahan lama, aku pikir lebih baik aku sampaikan ke Laura daripada timbul kejadian yang memalukan, setidak tidaknya dia tidak perlu harus terkejut kalau itu terjadi.


“Laura…eh Laura…” Suaraku serak. “hmmm aku minta maaf sebelumnya seandainya aku nanti gak kuat ..sorry aku belum pernah seheboh ini.”


“Tenang mas…asal nanti kalo mau keluar cepet bilang ya..” Bisik Laura sambil sedikit menyantuh pangkal batangku.


“Coba kalian ber doggy style, Laura kamu lurus menghadap ke kamera” teriak Adi dari kejauhan.

Tenang mas…tempelin aja gak papa kok. Eh pelindung nya dilepas aja ya supaya kesannya natural. “ Bisik Laura bergetar.


Hmmm apakah Laura sedikit terangsang pikirku bertanya Tanya. Aku selipkan batangku di sela sela pahanya dengan posisi doggy style. Aaahh gila ternyata Laura malah menjepit batangku dengan pahanya. Kehangatan miss Vnya benar benar membuatku panas dingin.


“ Action…ahhh Laura acting wajahmu kamu kurang natural, ulangi…please. Don kamu gak bisa acting lebih bagus ? Ok action !!!


Ah kalian ini bagaimana sih, masa acting mudah begitu gak bisa… Come on Laura…serius..!!! professional dong !!! Adi ngomel ngomel.


Kami harus retake sampe 5 kali untuk adegan yang sama.

“ahhhh mas Adi,,gue capek dong diulang ulang begini !! “ protes Laura.

Dengan merengut Laura mengambil posisi lagi masih dengan doggy style: “Eh mas Don, adegan ini coba lebih dihayati yuukk. Mas Don nurut aja ya sama Laura.”

“Ok Action !!” Teriak Adi.


Tiba tiba Laura menarik batangku lebih dekat dan yang mengejutkan dia menekan pahaku dengan kakinya, tentu saja kepala batangku mendesak miss V Laura yang hangat.


“Masukkan saja mas…mas Adi gak ngeliat kok… masukkan mas cepetan…” Bisik Laura.

Karena aku terlihat ragu, tangan Laura segera meraih batangku dan menekannya masuk. Laura langsung melenguh, maklum batangku termasuk besar. Dengan menggerakkan tubuhnya mau tidak mau, batangku keluar masuk ke miss Vnya berkali kali, membuatku terkaget kaget, badanku meremang panas dingin. Ternyata begini rasanya bercinta.


“Keluar masukkan agak cepat mas…ayo…gak papa kok…” Bisik Laura mendesak sambil sedikit merintih, giginya sedikit menggigit bibir bawahnya..


“Good !!! acting yang bagus ..!!! ini baru professional namanya !! teriak Adi dari jauh.

“Tenang mas Don, …mas Adi gak tahu kalo masuk beneran. Abis dia marah marah melulu… agak ditekan dong please…agak cepat ahhh ahhh nikmat mas..ayo sambil remas dadaku ahhh…” Laura mulai meracau.


“Laura….ooooh…nikmat banget…aduh ..gimana neeeh kalo keluar…” Bisikku panik.

Keluarin aja di dalem mas…gak papa…ahhh enak banget sehhh punya mas Don..ayo mas kurang nekan…Rintih Laura.

Karena sudah di beri ijin aku tidak ragu ragu menyemprotkan spermaku dalam dalam. Gila !! luar biasa sekali rasanya. Agen Slot Online Terbaik


“Ahhh udah gak perjaka lagi neeh” Laura tersenyum. “ Sepertinya harus kita lanjutkan setelah ini..” bisik Laura.


“Mas Adiiii…break dulu ya …aku mau pipis !!!” Laura langsung lari ke belakang agar sperma yang didalam tidak meleleh keluar. Sementara aku hanya melongo terkaget kaget melihat gerak cepatnya. Buru buru aku menarik handuk di dekatku menutupi batangku yang basah.


“Ok…kita break dulu, abis ini lanjut ya!!!” Kata Adi…

”Eh Don kenapa wajah loe pucat begitu…? Loe gak sampe ejakulasi kan ? Gue potong batang loe kalo sampe muncrat ke bini gue..”Kata Adi bercanda.

Hhhhh Adi…coba kalo kamu tahu…..

Cerita Sex Menikmati tubuh istri teman sendiri yang luar biasa bohai

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Tukang Pijit, Suatu hari aku dipanggil pimpinanku ke dalam ruangannya. Aku menduga-duga apa gerangan sebabnya aku dipanggil mendadak begini.


“Duduk, Dik. Tunggu sebentar ya,” katanya sambil meneruskan membaca surat-surat yang masuk hari ini.


Setelah selesai membaca satu surat barulah dia menatapku.


“Begini Dik Anto, besok hari libur nasional. Hari ini apa yang masih harus diselesaikan?” tanyanya.


Aku berpikir sejenak sambil mengingat apalagi tugas yang harus kuselesaikan segera hari ini.


“Rasanya sih sudah tidak ada lagi yang mendesak pak, ada beberapa proposal dan rencana kerja yang harus saya buat, tapi masih bisa ditunda sampai minggu depan. Ada apa Pak?” tanyaku.

“Anu, ada tamu dari Kalimantan, namanya Pak Jainudin, panggil aja Pak Jay. Sebenarnya bukan untuk urusan kantor kita sih. Hanya kebetulan saja pas dia ada di sini, jadinya sekalian aja. Dia menginap di Bekasi. Tadi dia telpon katanya minta tolong agar diantarkan surat yang kemarin Dik Anto buat konsepnya untuk dipelajari, jelaskan aja detailnya. Nanti Dik Anto antar saja ke sana dan bayar bill hotel beliau. Layani sampai selesai urusannya, kalau perlu nanti nggak usah kembali ke kantor. Besok beliau kembali. Kalau mobil kantor pas kosong, pakai taksi aja soalnya ini penting. Uangnya ambil di kasir!” katanya sambil memberikan memo kepadaku untuk ambil uang di kasir.

Cerita Sex Tukang Pijit

Bergegas aku ke kasir sambil cek di resepsionis ada mobil kantor lagi kosong atau tidak. Ternyata semua mobil lagi dipakai. Jadi aku naik taksi ke Bekasi.


Setelah sampai di hotel yang dituju, aku segera menemui Pak Jay, dan menyerahkan berkas yang dimaksud. Setelah dia bertanya tentang detail dari berkas tadi, dia katakan bahwa dia sudah mengerti dengan isinya dan setuju. Hanya ada perbaikan redaksional saja. Situs Slot Online Terpercaya


“OK Dik, nanti saya kabari. Begini saja, konsep ini saya bawa dulu. Perbaikannya nanti menyusul saja. Hanya redaksional kok. Isinya saya sudah paham dan prinsipnya setuju,” katanya.

“Oh ya pak, pimpinan saya sampaikan bahwa bill hotel bapak biar kami yang selesaikan,” kataku.

“Aduh, jadi merepotkan. Sampaikan terima kasih dan salam untuk pimpinanmu, Pak Is” katanya sambil menyalamiku.

“Baik Pak nanti saya sampaikan, selamat jalan”.


Aku kemudian membereskan bill di front office. Tiba-tiba saja petugas hotel memanggilku.


“Maaf Pak Anto ya? Ini Pak Jay mau bicara,” katanya sambil menyerahkan gagang telepon. Kuterima gagang telepon dan dari seberang Pak Jay berkata”Dik, saya lupa kasih tahu. Kebetulan semua urusan saya selesai hari ini jadi saya bisa pulang siang nanti. Dik Anto tunggu sebentar di bawah ya!”


Aku menunggu Pak Jay turun ke lobby. Sebentar kemudian dia sudah datang dan minta dipanggilkan taksi. Kupanggilkan taksi, dia naik dan katanya.


“Terima kasih banyak lho bantuannya”.


Aku menggangguk dan tersenyum saja. Setelah taksinya pergi, aku berpikir kalau dia jadi pulang, sementara bill sudah dibayar penuh sampai besok, sayang rasanya. Biar aja kuisi kamarnya sampai besok, toh besok juga libur. Aku lapor ke resepsionis.


“Mbak, Pak Jay sudah check out, saya pakai kamarnya sampai besok. Tapi tolong beresin dulu kamarnya, saya mau jalan dulu sebentar. Boleh kan?” kataku.

“Boleh pak, silakan saja,” katanya sambil tersenyum.


Akhirnya saya keliling-keliling di Kota Bekasi. Nggak ada yang aneh sih. cuma sudah lama saja tidak ke Bekasi. Setelah beberapa lama, capek juga rasanya badanku. Aku akhirnya masuk ke sebuah panti pijat tradisional. Siapa tahu dapat massage girl yang oke, setelah dipijat nanti gantian kita yang memijatnya.


Seperti biasa begitu masuk di ruang depan aku disodori foto-foto close up yang cantiknya mengalahkan artis. Mbak yang jaga mengomentari sambil sekalian promosi. Si A pijatannya bagus dan orangnya supel, Si B agak cerewet tapi cantik, Si C hitam manis dan ramah dan lain-lainnya. Aku sih tidak tertarik dengan promosinya. Pilihanku biasanya berdasarkan feeling saja.


Pada saat lihat-lihat foto, ada wanita yang masuk. Kulihat sekilas, kalau dia massage girl di sini aku pilih dia saja.


Kutanya pada yang jaga, ” Mbak, yang tadi barusan lewat kerja di sini juga?”

“Ya Mas, dia baru minta ijin keluar sebentar tadi. Katanya ada sedikit keperluan,” jawabnya.

“Boleh pijat sama dia Mbak?” tanyaku lagi.

“Boleh saja, tapi tarif untuknya agak tinggi sedikit,” katanya sambil tersenyum kemudian menyebutkan rupiah yang harus kusediakan.


Kuiyakan dan disuruhnya aku masuk ke kamar VIP, ada AC-nya meskipun berisik dan tidak terlalu dingin. Sambil menunggu di dalam kamar, kuamat-amati sekelilingku. Sebuah kamar berukuran 3 X 2 meter dengan sebuah spring bed untuk satu orang dan sebuah meja kecil yang di atasnya ada cream pijat dan handuk. Pintunya ditutup dengan korden kain sampai ke lantai. Kulepaskan pakaianku tinggal celana dalam saja. Iseng-iseng kubuka laci meja kecil di sampingku. Ada kotak “25″ yang sudah kosong.


Tidak lama kemudian gadis pemijat yang kupesan sudah muncul. Kuamati lagi dengan lebih teliti. Lumayan. Kulitnya putih, tinggi (untuk ukuran seorang wanita) dengan perawakan seimbang. Ia mengenakan celana panjang hitam dan kaus putih. BH-nya yang berwarna hitam nampak jelas membayang di badannya.


“Selamat siang,” sapanya sambil menutup korden dan mengikatkan pinggirnya pada kaitan di kusen pintu.

“Siang,” jawabku singkat.

“Silakan berbaring tengkurap Mas, mau diurut atau dipijat saja”.

“Punggungku dipijat saja, kaki dan tangan boleh diurut”.


Aku berbaring di atas spring bed. Ia mulai memijat jari dan telapak kakiku.


“Namanya siapa Mbak?” tanyaku.

“Apa perlunya Mas tanya-tanya nama segala. Mas kerja di Sensus ya?” Jawabnya sambil tersenyum. Meskipun jawabannya begitu tapi dari nada suaranya dia tidak marah.


Akhirnya sambil memijat aku tahu namanya, Wati, berasal dari Palembang. Pijatannya sebenarnya tidak terlalu keras. Sepertinya dia pernah belajar tentang anatomi tubuh manusia sehingga pada titik-titik tertentu terasa agak sakit jika dipijat.


“Aduh.. Pelan sedikit dong!” teriakku ketika dia memijat bagian betisku.

“Kenapa Mas, Sakit? Kalau dipijat sakit berarti ada bagian yang memang tidak beres. Coba bagian lain, meskipun pijatannya lebih keras tapi kan nggak sakit”.


Kupikir benar juga pendapatnya. Aku sedikit pernah baca tentang pijat refleksi yang membuka simpul syaraf dan melancarkan aliran darah sehingga metabolisme tubuh kembali normal. Ia memijat pahaku.


“Hmmhh.. Ada urat yang sedikit ketarik Mas. Pasti beberapa hari ini adik kecilnya tidak bisa bangun secara maksimal,” katanya.


Memang beberapa hari ini, entah karena kelelahan bekerja atau sebab lain sehingga pada pagi hari saat bangun tidur adik kecilku kondisinya kurang tegang. Aku tidak terlalu memperhatikan karena pikiran memang lagi fokus untuk menyelesaikan pekerjaan minggu ini. Tangannya beberapa kali mulai menyenggol kejantananku yang terbungkus celana dalam. Tapi herannya aku sama sekali nggak terangsang. Kucoba untuk menaikkan pantatku dengan harapan tangannya bisa lebih ke depan lagi, tapi ditekannya lagi pantatku.


“Sudahlah, Mas diam saja nanti nggak jadi pijat,” katanya.


Kali ini tangannya benar-benar meremas adik kecilku. Tapi sekali lagi aku heran, karena nggak bisa terangsang. Tangannya kini memijat pinggangku. Ibu jarinya menekan pantatku bagian samping dan jari lainnya memijat-mijat sekitar kandung kemih.


“Penuh.. Beberapa hari pasti tidak dikeluarkan ya Mas? Maklum adiknya juga lagi nggak fit,” komentarnya agak ngeres.


Lagi-lagi tebakannya benar. Aku tidak tahu dia asal tebak atau memang ada ilmunya untuk hal-hal seperti itu.


“Hhh..” kataku ketika ia mulai menekan punggungku, kemudian terus sampai tengkuk.


Aku mulai merasa rileks dan mengantuk. Enak juga pijatannya. Kini kakiku diurutnya dengan cream pijat. Sampai di dekat pahaku dia berkata”Tahan sedikit Mas, agak sakit memang”. Tangannya dengan kuat mengurut paha bagian dalamku. Terasa sakit sekali.


“Uffpp.. Haahh,” kataku sambil menahan sakit.


Kepalaku kubenamkan ke bantal. Setelah kedua belah pahaku diurut terasa ada perbedaan. Kejantananku mulai bereaksi ketika tangannya menyusup ke bawah pahaku. Pelan tapi pasti kejantananku mulai membesar sehingga terasa mengganjal. Aku agak menaikkan pantatku untuk mencari posisi yang enak. Kali ini dibiarkannya pantatku naik dan tanganku meluruskan senjataku pada arah jam 12.


“Balik badannya, dadanya mau dipijat nggak?”


Kubalikkan badanku. Kulihat keringat mulai menitik di lehernya. Untung ada AC, meskipun tidak bagus, sedikit menolong. Wati mengusap-usap dadaku.


“Badanmu bagus Mas, dadanya diurut ya?”

“Nggak usah, tanganku aja deh diurut,” kataku.


Ia duduk di sampingku dengan kaki menggantung di samping ranjang. Ketika ia meluruskan dan mengurut tanganku kupegang dadanya. Lumayan besar, tapi agak kendor.


“Tangannya..” katanya mengingatkanku.


Tidak berapa lama ia sudah selesai memijat dan mengurut badanku. Aku meregangkan badan. Terasa lebih segar.


“Sebentar saya ambil air dulu Mas,” ia keluar kamar dan kembali dengan membawa air hangat dan handuk kecil.


Dicelupkannya handuk kecil ke dalam air hangat dan dilapnya seluruh tubuhku sampai bekas cream pijat hilang. Kemudian dilapnya badanku sekali lagi dengan handuk yang ada di atas meja kecil. Aku kembali terangsang ketika dia melap dadaku. Kuperhatikan dia dan kupegang tangannya di atas dadaku. Ia memutar-mutarkan tangannya yang dibalut handuk.


“Kenapa Mas,” bisiknya.

“Ingin dikeluarin supaya nggak penuh dan meluap terbuang,” kataku.


Ia menggerakkan tangan, kode untuk mengocok penisku.


“Nggak boleh emangnya disini ya? Ini apa?” tanyaku sambil membuka laci meja dan menunjukkan kotak “25″ yang kosong tadi.

“Mas ini tangannya usil deh. Bukan begitu Mas, bos lagi ada di sini. Dia kesini seminggu dua kali. Dia melarang kami untuk begituan dengan tamu, katanya belakangan ini sering ada razia,” jawabnya.


Kami diam beberapa saat, tensiku sudah mulai turun.


“Begini saja Mas, kebetulan saya juga lagi ingin dan Mas sebenarnya sesuai dengan seleraku dan rasanya bisa memuaskanku. Sekali-sekali ingin juga menikmati kesenangan. Nanti malam saja kita ketemu setelah jam 10 malam, sini sudah tutup”.


Kutanya berapa tarifnya untuk semalam.


“Jangan salah kira Mas, tidak semua wanita pemijat hanya ingin uang saja. Sudah kubilang kalau kita nanti bisa take and give. Just for fun”.


Busyet.. Entah benar entah tidak bahasa yang diucapkannya aku tidak peduli. Malam ini aku dapat pemuas keinginanku yang tertahan selama beberapa hari. Kukatakan nanti setelah selesai kerja kutunggu di hotel tempatku menginap.


Aku kembali ke hotel dan mandi. Sekilas ada keinginanku untuk berswalayan-ria. Tapi kutahan, takut nanti malam jadi kurang greng. Setelah mandi aku kembali jalan di sekitar hotel. Jalan mulai macet, karena jam pulang kantor sudah lewat. Cuaca agak mendung dan tak lama turun gerimis. Kupercepat langkahku, tapi gerimis sudah mulai lebat. Untung ada sebuah warung tenda. Sekilas kubaca tersedia STMJ. Boleh juga nih, hitung-hitung persiapan nanti malam. Kupesan satu gelas. Kuseruput perlahan. Rasa hangat menjalari tubuhku. Jahenya terlalu pedas, kulirik penjualnya.


“Di sini STMJ-nya asli Mas, alami. Bukan buatan pabrik jamu, melainkan saya buat sendiri. Jahenya memang sengaja agak banyak biar badan jadi sehat dan tidak mudah masuk angin,” katanya seolah membaca pikiranku. Kutunggu minumanku agak dingin. Ternyata ramai juga warung ini. Mungkin juga akibat ramuan Bapak penjualnya yang membuatnya dengan bahan alami.


Kembali ke hotel meskipun dengan pakaian sedikit basah, namun kesegaran pijatan dan STMJ membuatku tidak takut masuk angin. Aku tidak bawa pakaian ganti karena niatnya tidak menginap, hanya melayani tamu kantor. Kulepas bajuku dan dengan tetap memakai celana panjang kubaringkan tubuhku ke ranjang yang empuk. Enak juga jadi orang kaya. Menginap di tempat yang empuk dan berAC. Namun kupikir lagi, ternyata hidup ini enak kalau dijalani dengan senang hati. Orang kaya yang punya jabatan tentu tingkat stressnya lebih tinggi dan belum tentu mereka dapat menikmati semua yang ada padanya. Mungkin cocok juga aku jadi filsuf, pikirku begitu sadar dari lamunanku.


Kulihat jam dinding menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Masih ada waktu tiduran dua jam setelah seharian pikiranku agak capek. Badan sih tidak apa-apa, hanya pikiran yang perlu istirahat.


Setengah tertidur aku mendengar ketukan di pintu.Cerpensex


“Tok.. Tok.. Tok..

“Mas Anto, ini Wati,” terdengar suara dari luar.


Upss, aku melompat dari ranjang dan membuka pintu. Setelah kubuka pintu aku tertegun sejenak. Wati tetap memakai kaus yang tadi siang dipakainya dibungkus dengan sweater dan celananya sudah ganti dengan jeans. Sepatu dengan hak tinggi membuat dia tampak lebih tinggi dan langsing. Kacamata bening nangkring di hidungnya yang sedang. Wajahnya dihiasi dengan make up tipis. Kalau dilihat sekilas seperti Yurike Prastica.


Wati masuk dan melepaskan sweaternya. Aku menutup pintu, menguncinya dan duduk di atas ranjang, lalu ia duduk di sampingku. Saat itu aku masih termangu, tapi penisku bereaksi lebih cepat dan langsung saja tegak dengan kerasnya. Wati melihat kebawah, ia sengaja melihat dan meraba, mengusap serta memainkan penisku.


Aku mulai bergairah tetapi hanya diam menunggu aksinya. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur, ia terus memainkan penisku. Dilepasnya kacamata dan diletakkan di meja samping ranjang. Ia berdiri dan melepaskan celana panjangnya. Pahanya yang mulus terpampang di depanku. Kudorong ia dan kupepetkan ke dinding sambil berciuman lembut. Ia mengerang kecil” Ngghngngh..”.


Tangannya membuka celana panjangku dan menariknya ke bawah. Tangannya meremas penisku dan mengeluarkannya dari celana dalamku. Ia bergerak sehingga aku yang dipepetnya di dinding. Dalam posisi setengah jongkok ia mulai mengulum penisku. Penisku semakin lama semakin tegang. Ia mengkombinasikan permainannya dengan mengocok, menjilat, mengisap dan mengulum penisku. Kupegang erat kepalanya dan kugerakkan maju mundur sehingga mulutnya bergerak mengulum penisku. Tangannya meremas pantatku dan menarik celana dalamku yang mengganggu gerakannya. Kurasakan mulutnya menyedot dengan kuat sampai penisku terasa ngilu.


Kuangkat tubuhnya dan kulucuti celana dalamnya. Kaus tipisnya masih kubiarkan tetap di badannya. Sebuah keindahan tersendiri melihatnya dalam kondisi polos di bagian bawah dan kausnya masih melekat. Belahan payudaranya yang besar membayang di balik kaus tipisnya. Kini aku yang jongkok di depannya dan mulai menjilati dan memainkan clit-nya. Vaginanya punya bibir luar yang agak melebar. Warnanya kemerahan. Ia terguncang-guncang ketika clitnya kujilat dan kujepit dengan kedua bibirku. Beberapa saat kami dalam posisi begitu. Tangan kirinya memegang kepalaku dan menekankan ke selangkangannya. Tangan kanannya meremas payudaranya sendiri.


Aku bangkit berdiri dan bermaksud melepas BH-nya. Kucari-cari di punggungnya tetapi tidak kutemukan pengaitnya.


“Di depan.. Buka dari depan,” Wati berbisik.


Rupanya model BH-nya dengan kancing di depan. Kuremas kedua dadanya dengan lembut. Tanganku sudah menemukan kancing BH-nya. Tidak lama dadanya sudah terbuka. Putingnya yang coklat membayang di balik kausnya. Kugigit dari luar kausnya dan Wati mengerang.


Penisku di bawah yang sudah berdiri melewati garis horizontal mulai mencari sasarannya. Tangannya mengocok penisku lagi dan menggesekkannya pada vaginanya. Kucoba memasukkannya sekarang, namun meleset terus. Kuangkat sebelah kakinya dan kucoba lagi. Tidak tembus juga. Mulutku masih bermain dengan puting di dalam kausnya. Wati kelihatannya tidak sabar lagi dan dengan sekali gerakan kausnya sudah terlempar di sudut kamar. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan keras namun hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri bahunya dan melepas tali BH-nya sehingga kini kami dalam keadaan polos.Cerpensex


Karena sudah gagal berkali-kali mencoba untuk memasukkan penis dalam posisi berdiri, kudorong dia ke arah ranjang dan akhirnya kudorong dia rebah ke ranjang. Saat itu aku mulai kepanasan karena gairah yang timbul. Lalu aku menerkam dan memeluk Wati. Perlahan-lahan ia mulai mengikuti permainanku. Kutindih tubuhnya dan kuremas pantatnya yang masih padat.


“Anto.. Kumohon please ayo.. Masukk.. Kan!”


Tangannya meraih kejantananku dan mengarahkan ke guanya yang sudah basah. Aku menurut saja dan tanpa kesulitan segera kutancapkan penisku dalam-dalam ke dalam liang vaginanya.


Kami saling bergerak untuk mengimbangi permainan satu dengan lainnya. Aku yang lebih banyak memegang peranan. Ia lebih banyak pasrah dan hanya mengimbangi saja. Gerakan demi gerakan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kamipun menggelosor lemas dalam puncak kepuasan yang tidak terkira.


Setelah sejenak kami beristirahat, kami saling melihat keindahan tubuh satu sama lain gairahku mulai bangkit lagi. Aku memeluknya kembali dan mulai menjilati vaginanya. Dan kemudian memasukkan penisku yang sudah kembali menegang.


Aku menusuk vaginanya, crek.. crek.. crek.. crek.. crokk .. Berulang kali. Ia pun mendesah sambil menarik rambutku. Kami saling bergoyang, hingga tempat tidur pun terasa mau runtuh dan berderit-derit. Setelah hampir setengah jam dari permainan kami yang kedua kali, Wati mengejang dan vaginanya terasa lebih lembab dan hangat. Sejenak kuhentikan genjotanku.


Kini aku kembali menggenjot vagina Wati lagi. Kami berdua bergulingan sambil saling berpelukan dalam keadaan merapat. Kuputar badannya sehingga dia dalam posisi pegang kendali di atas. Kini dia yang lebih banyak memainkan peranan. Akhirnya aku hampir mencapai puncak dari kenikmatan ini. Kutarik buah zakarku sehingga penisku seolah-olah memanjang.


“Wati, kayaknya aku nggak tahan lagi, aku mau keluar”.


Akhirnya tak lama kemudian kami mencapai titik puncak. Aku keluar duluan dan tak lama Watipun mendapatkan puncaknya dengan menikmati kedutan pada penisku. Setelah itu kami terbaring lemas, dengan Wati memelukku dengan payudaranya menekan perutku. Agen Slot Online Terbaik


“Wati terimakasih untuk saat-saat ini”

“Nggak usah To.. Wati yang terimakasih karena, Wati nggak menyangka kamu sungguh hebat. Wati nggak nyangka kamu punya tenaga yang besar. Wati tadi hanya berharap menikmati permainan dengan cepat karena tadi siang pijatanku sudah kuarahkan agar kita bermain dengan cepat”.


Kami tertidur berpelukan dan setelah pagi harinya kami bercinta untuk ketiga kalinya, dan kuakhiri dengan tusukan yang manis, kami saling membersihkan badan dan pulang. Kuantar ia sampai di depan gang rumahnya.


Ketika beberapa hari kemudian kucari dia di tempat kerjanya, tidak kudapati lagi dirinya. Kata Mbak yang jaga di depan dia pulang kampung dan tidak kembali lagi. Ditawarkan temannya yang lain untuk memijatku, namun aku tidak berminat dan langsung balik kanan, back to Batavia.

Cerita Sex Tukang Pijit

Cerita Dewasa Nada4D - Cerita Sex Reporter yang Malang, Suasana di kantor bupati benar-benar tegang. Beberapa petugas berseragam safari hilir mudik dan berjaga di beberapa tempat. Wajah mereka yang kaku cukup untuk menggambarkan setegang apa situasi di tempat itu. Beberapa tamu yang lewat diarahkan kd tempat lain, seolah mencegah mereka untuk memasuki area tertentu. Meski begitu sayup-sayup masih terdengar suara teriakan-teriakan panas dari sebuah ruangan yang tertutup rapat, yang pintunya dijaga oleh dua sekuriti berwajah keras.


Di dalam ruangan, beberapa orang berpakaian safari duduk berhadapan pada sebuah meja besar. Salah satu dari mereka, yang duduk ditempat paling ujung yang biasanya ditempati oleh pemimpin rapat, terlihat terengah-engah dengan wajah merah padam. Orang itu, pria paruh baya agak gemuk dengan rambut tipis beruban, menyeka wajahnya yang berminyak dengan sapu tangan, matanya yang melotot merah menunjukkan kalau dia sedang marah.

Cerita Sex Reporter yang Malang

“Instruksi dari Bapak Bupati kan sudah jelas!” pria itu membentak sambil menggebrak meja. Orang yang ada di sebelahnya berjengit menjauh.


“Maaf Pak ajudan..” salah satu staf yang duduknya paling dekat mencoba menjawab. “Kita kecolongan, saya sendiri heran dari mana mereka bisa tahu.”


Pria yang disebut ajudan itu melotot ke arah staf tadi. Situs Slot Online Terpercaya


“Lalu buat apa kamu dibayar?” dia membentak lagi. Staf itu langsung mengkeret lagi.


“Saya tidak mau tahu! Instruksi Pak Bupati sudah jelas. Reporter itu harus dihentikan.”


Rapat hari itu bubar tanpa ada keputusan pasti. Si Ajudan terlihat sibuk menerima panggilan lewat ponselnya, dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil bergumam tidak jelas.


Semua itu berawal dari sebuah berita koran lokal yang menyebutkan bahwa Pak bupati telah melakukan korupsi dengan cara menggelapkan pendapatan asli daerah. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai triliunan rupiah. Tidak mengherankan. Sebagai bupati di Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam, tentu pendapatan daerahnya bisa mencapai puluhan triliun per tahun.


Celakanya, berita itu tercium oleh tim dari MetroTV yang memang sangat jeli dalam mendapatkan berita-berita semacam itu. Kalau berita itu tercium sampai ke pusat, maka bisa dipastikan hampir seluruh pejabat daerah tersebut bakal masuk penjara. Hal itulah yang sangat ditakuti oleh sang bupati. Sebagai penguasa daerah yang kaya-raya, bupati di sana ibarat raja, perintahnya sangat dijunjung tinggi. Mengusik bupati sama dengan cari mati.


***


Prita Laura memandang ke arah jendela untuk melepaskan ketegangan matanya. Perjalanan kali ini terasa sangat membosankan. Sudah berjam-jam lamanya dia duduk di mobil. Sopir penjemputnya bilang perjalanannya memakan waktu delapan jam, masih belum ditambah perjalanan lewat Sungai Kapuas yang juga tidak sebentar. Sebagai reporter, Prita sering melakukan perjalanan jauh, tapi belum pernah Prita mengalami perjalanan yang selama dan semembosankan ini.


Di sebelahnya, Frida Lidwina tampak sama bosannya dengan dia. Wajah Frida yang putih terlihat seperti tersaput kabut tebal. Earphone putih yang menempel di telinganya beberapa kali dimain-mainkan hanya sekedar untuk menyibukkan tangannya. Musik dari MP3 player yang digenggamnya sudah tidak sepenuhnya dia nikmati.


Frida menoleh ke arah Prita, pada saat bersamaan Prita juga menoleh ke arahnya. Keduanya saling berpandangan sambil nyengir.


“Kenapa? Bosen?” tanya Prita pendek.


“Iya nih. Gue bosen banget.” Frida menjawab sambil tersenyum. Giginya yang putih rata tampak kontras dengan bibirnya yang merah seksi.


“Tenang aja.” Prita melihat ke jam tangan Cartiernya. “Elo masih punya waktu tiga jam lagi buat bosen.”


“Konyol..” Frida tertawa lepas. Stres perjalanannya sedikit berkurang. Prita memang orangnya lucu. Meski pendiam, tapi spontan dan komentar-komentarnya kadang tak terduga.


“Padahal setelah ini masih harus lewat Sungai Kapuas kan?” tanya Frida.


“Yup.” jawab Prita pendek.


“Berapa lama?”


“Sekitar empat sampai lima jam katanya..” Prita menjawab ringan. Frida membelalakkan matanya yang indah dengan tatapan kaget.


Perjalanan terus berlanjut tanpa insiden berarti, kecuali jika guncangan keras saat mobil melindas batu, yang membuat Frida terlempar dari kursinya bisa dihitung sebagai insiden. Mereka akhirnya sampai di desa terakhir yang bisa dijangkau lewat darat. Desa itu berada tepat di tepi Sungai Kapuas yang lebar. Daerah yang mereka tuju terletak sekitar lima jam ke arah hilir menggunakan perahu motor.


Prita berdiri dengan bertolak pinggang, menatap ke arah sungai lebar yang ada di hadapannya. Agak ngeri juga Prita memandangnya, mengingat dirinya tidak pandai berenang. Bagaimana kalau tenggelam, pikirnya.


“Bengong aja.” tegur Mas Teguh, salah satu dari dua juru kamera yang mendampingi Prita dan Frida. “Bantuin angkat nih!” Mas Teguh menyodorkan tas besar berisi kaset VCR. Prita memonyongkan bibirnya mencibir lucu. Sementara Frida dan satu juru kamera yang lain terlihat berbicara dengan salah satu penduduk lokal.


Pria yang diajak bicara oleh Frida itu tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dibilang pendek. Tingginya kurang dari sebahunya Frida. Meski begitu tubuhnya yang legam terlihat kekar, tato bermotif tribal menghiasi lengan kirinya yang berotot. Wajahnya keras, dihiasi kumis yang tumbuh jarang-jarang. Rambutnya agak panjang dan berantakan. Segores bekas luka memanjang di pipi kirinya membuat wajahnya seperti terbelah jadi dua.


Prita, yang melihat Frida memberi isyarat, segera mendatangi mereka.


“Ini pemandu kita.” kata Frida sambil menunjuk ke arah pria yang tadi diajaknya bicara.


“Herman.” pria itu menjabat tangan Prita yang lembut, cengkeramannya seperti ingin meremukkan jari tangam Prita yang halus.


“Prita Laura.” jawab Prita sambil meringis, kemudian memegangi tangannya sambil mengeluh kesakitan.


“Oh, maaf.” Herman berujar cepat, meski begitu ucapannya terdengar datar dan tidak tulus. Prita hanya mengangguk dan nyengir kecil.


“Berapa dia minta?” Prita berbisik pada Frida sambil menarik Frida menjauh.


“Empat.” jawab Frida pendek.


“Empat ratus?” Prita mengangkat alis. “Enggak kemahalan?”


“Siapa bilang empat ratus?” Frida menjawab dengan nada jengkel. “Empat juta.”


“Empat juta? Gila.!” Prita meninggikan suaranya. “No way! Nggak bisa!”


“Sayangnya cuma mereka yang ada.” kata Frida. Keduanya terdiam selama beberapa lama.


“Aneh..” Prita berujar datar.


“Aneh apanya?”


“Begitu banyak orang di desa ini, apa mungkin cuma dia pemandu di sini?” terang Prita.


“Gue nggak tahu.” Frida hanya mengangkat bahu.


Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.Net


Mereka menyusuri Kapuas dengan menggunakan perahu motor. Herman membawa tiga orang temannya sesama pemandu. Masing-masing memperkenalkan diri sebagai Gayong, Sam, dan Eddy. Gayong adalah seorang peranakan suku asli pedalaman. Badannya tegap dengan wajah mirip orang cina, tapi kulitnya hitam terbakar. Sam berbadan gempal dan berwajah seperti orang mengantuk, usianya diatas 40 an, kantong matanya menggelambir besar, pipinya gemuk tapi kendor. Sementara Eddy, tidak sesuai dengan namanya, wajahnya lebih mirip orang bego yang melongo terus menerus. Giginya ompong di beberapa tempat. Hobinya mengisap rokok kemenyan yang asapnya bisa membuat pusing siapapun yang menghirupnya.


Untungnya, perjalanan lewat sungai tidaklah semembosankan yang dibayangkan oleh Prita dan Frida. Sepanjang perjalanan yang mereka lihat adalah pepohonan hijau rindang di sisi kiri dan kanan sungai. Seringkali mereka melihat beberapa satwa seperti burung atau kawanan kera bergerak di sela-sela pepohonan. Sementara itu di bagian belakang kabin kapal terlihat Gayong, Sam dan Eddy sedang belajar mengoperasikan VCR portabel. Mas Teguh mengajari mereka.


“Sebenarnya nggak sulit.” kata Mas Teguh. “Ini switch ON OFF, ini casing tempat kaset ini zoom dan adjustment switch..” Teguh menunjuk beberapa bagian VCR. Ketiga pemandu itu mengangguk paham. Mereka kemudian mencoba mengambil beberapa snapshot, diantaranya menyorot Prita yang sedang bengong di dekat jendela.


Suasana yang sejuk ditambah angin yang bertiup leluasa membuat hawa kantuk menyebar dengan cepat. Herman dan ketiga temannya berkumpul agak terpisah sambil menikmati semacam minuman tradisional yang mereka bawa.


“Apa itu Pak Herman?” tanya Prita yang tertarik pada minuman berwarna kuning keruh yang dikemas dalam botol air mineral besar.


“Oh. Ini tuak manis.” Herman mengangkat gelas plastik di tangannya. “Dari campuran air nira dan tape. Tapi nggak bikin mabuk kalau sedikit.” Herman buru-buru menambahkan saat melihat ekspresi Prita.


“Non Prita mau?” tanya Herman yang tanpa menunggu jawaban dari Prita langsung menuangkan tuak manis itu ke dalam empat gelas plastik yang tersedia di dekat mereka. Lalu bersama-sama, Herman dan Prita membawa empat gelas tuak itu ke rombongan Prita.


“Apa ini Prit?” tanya Frida sambil mengamati isi gelas dengan tatapan bertanya-tanya.


“Minuman tradisional daerah sini katanya.” Prita menjawab. “Tuak.”


“Bikin mabuk dong.” sela Frida.


“Nggak, kalau minumnya cuma segelas dua gelas.” Herman mendahului. “kami sering minum ini. Saya jamin nggak bikin mabuk.”


Prita mengangkat bahu melihat ekspresi Frida dan teman-temannya. Di belakang, Gayong, Eddy dan Sam terdengar tertawa-tawa sambil bicara dalam bahasa daerah dengan pengucapan yang cepat.


Akhirnya setelah diyakinkan oleh Herman kalau minuman tradisional itu tidak memabukkan, Prita dan teman-temannya mencicipi minuman itu.


“Rasanya seperti air tape..” kata Frida sambil mencecap lidahnya.


“Agak kecut ya.?” Prita menambahkan. Beberapa detik kemudian tubuhnya mulai bereaksi. Minuman itu membuat perutnya menghangat, seolah ada yang menyalakan api di dalam perutnya. Dalam sekejap hawa hangat itu langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat Prita seolah merasa ringan sekali, seolah Prita merasa tubuhnya melayang beberapa senti di udara.


Selang beberapa menit, setelah menghabiskan satu gelas, reaksi tubuh Prita mulai berbeda. Tubuhnya terasa lemas dan mengantuk. Semula Prita mengira ini disebabkan oleh faktor perjalanan yang terlalu melelahkan, tapi tiba-tiba Prita tersadar kalau rasa kantuknya ini tidak ada hubungannya dengan perjalanan yang melelahkan ini.


***


Prita tersentak bangun dengan gelagapan saat seember air menyiram sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai pinggang. Prita menggelengkan kepalanya, mengibaskan air dari wajah dan rambutnya. Sesaat Prita merasa pengaruh minuman tradisional yang membuatnya tertidur masih menguasainya. Kepalanya masih terasa pusing dan berputar-putar selama beberapa detik. Baru, beberapa detik berikutnya, secara pelan-pelan Prita tersadar dengan keadaan dirinya sekarang. Prita mendapati dirinya terikat pada sebuah kursi kayu yang besar dan kokoh dengan posisi tangan di belakang punggung kursi. Tapi itu bukan bagian terburuknya. Bagian terburuknya adalah, saat itu Prita hanya tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja! Posisi pahanyapun dibuat sedemikian rupa sehingga daerah kemaluannya terbuka lebar, membuat daerah kemaluannya membayang dengan jelas. Air yang menyiram tubuhnya membuat BH Dan celana dalamnya yang tipis menjadi semakin transparan sehingga puting payudaranya dan vaginanya membayang dengan samar. Kalau ada yang membuat Prita lebih kaget lagi adalah, saat dia tahu kalau Herman dan ketiga kawannya berdiri di hadapannya. Keempat orang itu tengah asyik menikmati keindahan tubuh putih mulus Prita yang setengah telanjang.


“Pak Herman..? Kenapa..” Prita dengan penuh kekagetan bertanya. Prita merasa sangat malu dan sekaligus marah diperlakukan seperti ini. Belum pernah sepanjang hidupnya Prita mengalami penghinaan sehina ini.


“Tenang saja di situ Prit.” Herman berkata dengan dengusan nafas liar. “Kami sedang melihat pemandangan indah.”


“Jangan Pak..” Prita mulai menangis ketakutan. “Jangan perkosa saya.” Prita mencoba meronta seolah dengan begitu dia bisa membebaskan diri dari tali yang membelit tangan dan kakinya. Tapi ketika tahu usahanya sia-sia, Prita menjadi panik.


“Tolong.!” Dalam keadaan panik, Prita berteriak. Anehnya Herman dan kawan-kawannya malah tertawa.


“Percuma teriak.” Herman berkata santai. “Di tengah hutan siapa yang mau menolong?”


Ucapan Herman itu seperti merontokkan keberanian Prita. Prita tersadar kalau dia bahkan tidak tahu di mana dia saat ini.


“Tapi.. kenapa..?” Prita dengan sisa keberaniannya bertanya dan menatap Herman dengan tatapan penuh kebencian, sekaligus ketidakberdayaan.


“Kenapa?” Herman tertawa. “Tidak kenapa kenapa.. kecuali hanya kalian terlalu ikut campur urusan bupati kami.”


“Kalian..?” Prita terkejut bukan main. Dia tidak menduga hal seperti ini bakal terjadi. Menjadi jelas sekarang kenapa tidak ada pemandu lain yang bisa mengantarkan mereka waktu di desa terakhir. Pasti itu adalah akal mereka juga.


“Kalian..” Prita tergagap.


“Tentu saja.” Herman menjawab. “Kalian tidak menyangka? Sayang sekali.. kukira kalian pintar.”


Prita menggelengkan kepala seolah tak percaya, sekaligus menyesali tindakannya yang kurang cermat.


“Tentu saja mudah bagi kami untuk membelokkan informasi buat kalian, koneksi bupati kami lebih hebat dari yang kalian tahu.” kata Herman sambil mendekati Prita.


“Tapi dari mana kalian mendapat informasi tentang rencana kami?” tanya Prita putus asa. Rasa takut yang mencengkeramnya membuat otaknya seperti buntu.


“Pintar juga kamu Prit..” Herman tersenyum sinis. “Sayang informasi itu termasuk rahasia.” katanya sambil membelai rambut gadis cantik itu. Prita melengos menolak sentuhan Herman.


“Dimana teman-teman saya?” Prita tiba-tiba teringat pada Frida dan yang lainnya.


“Tenang saja, mereka baik-baik saja untuk sementara ini.” Herman menyeringai jahat. “Bahkan khusus untuk Frida, kami ingin dia terus baik-baik saja, karena kami punya rencana tersendiri buatnya.”


“Tidak..! Jangan.!” Prita merasa, apapun rencana mereka pastilah sesuatu yang buruk. “Jangan lakukan apapun padanya. Bunuh saja saya!” Prita memberontak sekuat yang dia bisa, meskipun hal itu sia-sia karena tali yang mengikatnya terlalu kuat untuknya.


“Diam cerewet!” Herman menampar pipi Prita, tidak keras, tapi cukup untuk membuat bekas kemerahan di pipi Prita yang putih. Tamparan itu cukup efektif untuk menghentikan teriakan Prita. Prita menunduk, hanya suara isakan tangis yang terdengar dari bibir mungilnya.


“Cantik..” Herman mengangkat wajah Prita yang ketakutan. “Kamu tahu.. Pak Bupati memberi kami kebebasan untuk melakukan apapun pada kalian.”


Di luar dugaan, Herman menyentakkan wajah Prita sampai menengadah. Lalu dengan ganas, bibir Herman segera melumat bibir Prita, membuat gadis itu menyentak-nyentak jijik. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan bibirnya dari lumatan bibir Herman. Tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria kekar itu. Akhirnya Prita hanya bisa pasrah dan hanya bisa meneteskan air mata. Selama beberapa menit bibir Prita yang mungil itu terus menerus diciumi dan dilumat-lumat oleh Herman.


Prita langsung terbatuk-batuk saat Herman akhirnya melepaskan bibirnya. Prita meludah ke lantai, segala kejijikannya tumpah pada ludahnya. Dia merasa terhina dan sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi Prita juga tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaannya seperti itu.


“He he he..” Herman tertawa melecehkan. “Ternyata bibir reporter enak juga.” katanya sambil menyeka bibirnya sendiri. Dibelainya rambut Prita dengan lembut, Prita menarik kepalanya mundur, menolak sentuhan pria itu.


“Tunggu di situ sebentar ya Sayang, saya urus yang ini dulu.”


Herman lalu memberi isyarat pada ketiga temannya. Mereka bertiga meninggalkan ruangan, sesaat kemudian mereka kembali lagi, kali ini mereka membawa seseorang bersama mereka. Frida! Kedua tangan Frida terikat ke belakang dengan bibir tertutup lakban hitam. Matanya memerah sembab seperti habis menangis. Kaus ketat yang dikenakannya terlihat berantakan sepertinya kaus itu pernah dibuka paksa sebelumnya.


“Frida!” Prita menjerit kaget dan meronta sejadi-jadinya, sementara Frida, yang sama kagetnya melihat kondisi Prita, spontan memberontak. Sam dan Eddy cepat-cepat menarik lengan Frida lalu memaksa Frida berlutut. Frida terus meronta dengan air mata bercucuran, isak tangisnya tertahan oleh lakban yang menempel di bibirnya. Jengkel karena Frida yang terus meronta, Sam menampar wajahnya. Frida mengeluh pendek dan langsung terdiam. Frida hanya berlutut sambil tersedu.


“Jangan sakiti dia! Lepasin dia!” Prita memberontak dan berteriak kalap. Tangisnya makin menjadi-jadi. Herman menjadi jengkel, dia menjambak rambut Prita dan menyentakkannya kuat-kuat membuat wajah Prita mendongak. Prita meringis ketakutan, tapi dia langsung diam.


“Kalau kamu nggak mau diam, saya akan bunuh teman-teman kamu.” ancam Herman bengis, dia mencabut mandau yang memang sejak tadi dia bawa. Senjata khas Kalimantan itu terlihat berkilau mengerikan. Darah Prita seolah berhenti melihat sisi tajam senjata itu. Seketika wajahnya memucat ketika Herman menempelkan sisi tajam mandau itu ke lehernya. Rasa dingin besi tajam yang membelai leher putihnya membuat nyawa Prita seolah terbang sebagian. Prita gemetar ketakutan, dia menggigit bibirnya, menahan keinginannya untuk berteriak sekuat mungkin.


“Nah.. Begitu kan bagus..” Herman tersenyum liar. “Sekarang kita lihat yang ini ya..” Herman memberi kode pada temannya. Sam terlihat menenteng VCR portabel berlabel ‘MetroTV’ yang jelas-jelas diambil dari teman-teman Prita. Sementara itu Gayong dan Eddy melepaskan ikatan dan sumbatan mulut Frida. Frida langsung terbatuk sambil menyeka bibirnya yang merah. Masih dalam keadaan kalut, Gayong dan Eddy memaksa Frida berdiri. Dengan kaki gemetar Frida berdiri sambil terus menangis.


“Sudah! Diam!” Gayong membentak. “Hapus air mata kamu!”


Frida terdiam karena ketakutan. Dia segera menghapus air mata di wajahnya dengan punggung tangan.


“Sekarang baca ini!” perintah Gayong tegas. Dia menyodorkan selembar kertas pada Frida. “Baca di depan kamera.”


Frida langsung pucat pasi membaca tulisan yang ada di kertas yang dipegangnya.


“Nggak.. nggak mungkin..” Frida kembali menangis tersedu. “Saya nggak mau!” Frida menggeleng.


“Kalau kamu nggak mau..” Gayong menunjuk ke arah Gayong yang mandaunya masih menempel ketat di leher Prita. “Kamu lihat temanmu kan..?”


Gayong lalu membuat gerakan bengis mengiris lehernya sendiri dengan tangannya. Frida merasa keberaniannya yang tinggal seujung kuku langsung terbang saat itu juga. Frida benar-benar panik. Dia sungguh tidak berdaya menolak perintah Gayong. Dengan sangat terpaksa, Frida akhirnya menjawab.


Kunjungi JUga CeritaSexHot.Org


“Jangan.. jangan sakiti teman saya..Saya akan lakukan, tapi jangan sakiti teman saya..” Frida berkata gemetar sambil menghapus air matanya.


Prita terperanjat mendengar itu.


“Jangan! Jangan Frid!” Prita menjerit dan memberontak di kursinya. Tapi Herman menekan mandaunya lebih dalam ke leher Prita memaksa Prita diam.


“Jangan ribut!” Herman membentak. “Kamu tunggu giliran.”


“Jangan! Jangan sakiti dia!” Frida menggeleng ketakutan. “Tolong jangan sakiti dia.. saya akan lakukan.”


“Nah.. Kalat begitu tunggu apa lagi?” kata Gayong dengan tawa penuh kemenangan. Dia memberi kode pada Sam yang memegang kamera VCR. Sam segera berdiri dan menyalakan kamera VCR nya.


“Lihat ke sini dong Frida..” kata Sam sembari mengarahkan kameranya pada Frida. Frida berusaha keras untuk tidak menangis. Dia kemudian berdiri menghadap ke kamera. Frida memaksakan diri untuk tersenyum, memaksakan diri seolah-olah ini hanyalah reportase yang biasa dia lakukan. Untuk sesaat Frida hanya berdiri mematung di tempatnya. Baru setelah Sam memberi kode Frida mulai membaca tulisan di tangannya.


“Nama saya Frida Lidwina..” Frida memulai. “Saya menyatakan, apa yang saya lakukan berikut ini adalah keinginan saya sendiri tanpa paksaan dari siapapun.”


Frida berusaha membuat intonasi suaranya sewajar mungkin meskipun dirinya tidak rela melakukan hal tersebut. Sementara di seberang, Prita menangis terisak menyaksikan hal itu dan mengetahui bencana besar yang akan menimpa temannya. Prita memalingkan wajahnya dan memejamkan mata, tidak tega menyaksikan Frida mengalami penghinaan seperti itu, tapi Herman memaksa Prita menyaksikan adegan selanjutnya.


“Jangan sampai ketinggalan Prit.. Lihat baik-baik..” Herman menekan mandaunya lebih dalam ke leher Prita, membuat Prita terpaksa melihat bagaimana sahabatnya mengalami penghinaan.


“Nah.. sekarang..” Gayong yang bicara. “Kami mau melihat kamu telanjang. Jadi kamu sekarang harus buka baju.”


Frida dan Prita terkesiap mendengar hal itu. Ketakutan terbesar mereka selama ini akhirnya terbukti. Frida menggeleng sambil menggigit bibirnya, tapi melihat keadaan Prita yang berada dibawah ancaman mandau di lehernya, tanpa daya, nyaris telanjang, Frida merasa dirinya tak punya pilihan lain. Akhirnya dengan senyum yang teramat sangat terpaksa, Frida berucap. “Baik Tuan.”


Kemudian, dengan keengganan luar biasa, Frida mulai menarik kaus ketat yang dipakainya ke atas, melewati bahunya dan kemudian lepas dari tubuhnya. Seketika Herman dan kawan-kawannya terpana sambil meneguk ludah menyaksikan tubuh putih Frida bagian atas yang hanya tertutup BH putih tipis. Payudara Frida menonjol ketat di balik mangkuk BH berenda itu. Perutnya yang ramping terlihat rata dan mulus sekali.Cerpen Sex


“Ayo.. terus..” perintah Sam yang sibuk merekam detik demi detik Frida melucuti pakaiannya sendiri. Frida tidak tahan lagi, bendungan air mata yang menahan tangisnya akhirnya jebol. Dengan terisak, Frida membuka kancing celana jinsnya, kemudian melepaskan celana itu dari kakinya. Paha putih mulus dan jenjang seperti kaki belalang yang berakhir pada pinggul bulat terpampang begitu indah. Bagian selangkangan Frida yang terbalut celana dalam putih terlihat membukit, membentuk segitiga yang nyaris sempurna.


“Siapa yang menyuruh kamu berhenti?” bentak Gayong yang melihat Frida bergeming beberapa saat sambil mendekap payudaranya yang ketat. Frida menggeleng, air matanya mengalir kian deras.


“Jangan Tuan.. jangan telanjangi saya..” kata Frida di sela isakan tangisnya.


“Kalau nggak mau biar aku saja yang buka.” kata Gayong, lalu dengan gerakan gesit Gayong menyambar bagian depan BH Frida, lalu dengan sekali sentakan, BH itupun langsung robek dan terlepas dari tubuh Frida, membuat payudara Frida meloncat keluar dengan gerakan lembut. Frida menjerit pendek dan spontan mendekap dadanya yang kini telanjang. Tapi Gayong tidak berhenti sampai di situ. Dia juga merenggut celana dalam Frida dan menariknya sampai robek. Kain terakhir yang menutupi tubuh Frida terlepas sudah.


Frida dengan gugup mencoba menutupi daerah daerah rahasia tubuhnya dengan kedua tangannya meski itu tidak banyak berarti, sementara Herman dan ketiga temannya tertawa tawa sembari menatap tubuh Frida yang telanjang.


“Oi.. Sam, suruh dia singkirkan tangannya.. kalau tidak..” Herman mengancam dengan menekan mandaunya ke leher Prita. Prita memejamkan matanya, karena ketakutan dan tidak tega melihat Frida ditelanjangi.


“Kamu dengar itu kan Frid?” Sam memberi kode pada Frida untuk menyingkirkan tangannya dari payudara dan vaginanya. Frida terisak pelan, lalu dengan gerakan enggan, Frida melepaskan dekapan tangannya.


“Ohh..” Herman dan ketiga kawannya mendengus penuh nafsu sambil memelototi tubuh mulus Frida. Tubuh putih mulus reporter cantik itu sudah sepenuhnya telanjang bulat di hadapan mereka. Payudara Frida yang berukuran sedang namun ketat dan kenyal terlihat membusung indah, putih mulus dengan putingnya yang pink muda mencuat membangkitkan nafsu. Perut yang licin rata membentuk pinggang ramping yang berakhir pada pinggul yang besar dan membulat membentuk daerah selangkangan yang masih bagus. Daerah kemaluan Frida yang masih bagus itu dihiasi oleh rambut halus dan rapi, jelas menunjukkan sebagai tubuh yang terawat cermat.


Sam yang memegang kamera VCR tidak melewatkan sedetikpun kesempatan untuk menyorot keindahan tubuh telanjang Frida, baik secara close up maupun wide shoot. Bagian yang paling sering disorot tentu saja pada seputar daerah payudara dan vagina Frida. Sesekali Sam juga menyorot wajah Frida yang terlihat begitu memelaskan, tanpa daya dan pasrah.


“Bagaimana Frid?” Gayong tersenyum liar. “Kamu senang kan ditelanjangi?”


Frida menunduk, menolak menjawab pertanyaan itu, tapi dia sadar kalau posisinya tidak memberi kesempatan untuk menolak. Akhirnya Frida menjawab.


“I.. iya Tuan.. saya suka..”


Gayong dan teman-temannya tertawa penuh kemenangan.


“Kalau begitu kamu nggak keberatan kan kalau kami mencicipi kamu?”


Frida menggeleng.


Maka tanpa menunggu lebih lama, Gayong dan Eddy yang sudah terangsang melihat tubuh mulus Frida yang telanjang bulat, langsung mendekap tubuh putih mulus itu. Keduanya segera menyerang daerah-daerah sensitif di tubuh Frida. Gayong dengan gemas membenamkan bibirnya yang kasar ke bibir Frida yang mungil. Bagaikan mengulum permen karet, bibir Gayong beraksi melumat-lumat bibir presenter cantik itu dengan kekuatan seperti pagutan ular, membuat Frida megap-megap kehabisan nafas. Frida memejamkan matanya, menolak menatap Gayong, tapi bibirnya tidak mampu menahan serbuan bibir Gayong. Gayong terus mendesak bibir Gayong terus mendesak bibir mungil itu, bahkan pelan-pelan Gayong mulai mendorongkan lidahnya menerobos ke dalam mulut presenter itu. Frida yang pasrah merelakan lidah kotor itu menelusuri bagian dalam mulutnya dan membelit lidahnya.


Pada saat yang bersamaan, Eddy dengan kebrutalan yang nyaris tak berbeda tengah asyik menciumi dan menelusuri bagian leher dan bahu Frida yang bening dengan bibirnya dari belakang. Kecupan demi kecupan Eddy meninggalkan jejak kemerahan di leher dan pundak mulus Frida. Sementara tangan Eddy tidak membiarkan payudara lembut presenter cantik itu menganggur, tangan kasar Eddy mencengkeram payudara lembut Frida bagian kiri dan meremas payudara itu dengan kekuatan seperti seorang pegulat, membuat Frida menggeliat kesakitan merasakan payudaranya diremasi dengan begitu brutal.


“Ohh.. mhh.. ogh..” Frida mendesah tertahan ketika tangan kasar Eddy membelai-belai dan meremas-remas payudaranya. Desahan Frida tertahan oleh kecupan-kecupan brutal Gayong pada bibirnya. Mat tak mau, perlakuan kasar Gayong dan Eddy pada bagian sensitif tubuhnya membuat sensasi seksual dalam tubuh Frida perlahan-lahan meningkat. Desakan seksual itu, meskipun tak diinginkan oleh Frida, makin menggelegak saat Gayong dan Eddy mengarahkan serangannya pada kedua belah payudara Frida yang menggantung indah. Kecupan dan remasan secara bergantian mendarat di payudara putih kenyal itu. Sesekali sambil meremasi payudara mulus presenter cantik itu, Gayong dan Eddy juga menjilati dan menyentil-nyentil puting payudara Frida dengan lidah mereka yang kotor. Kadangkala keduanya juga melumat payudara Frida dan mengenyotnya kuat-kuat, membuat kedua pria itu terlihat seperti bayi besar yang sibuk menyusu pada ibunya.


“Gimana Prit? Bagus kan tontonannya?” tanya Herman pada Prita. Herman terlihat sekali sangat menikmati tontonan indah saat tubuh telanjang bulat Frida yang putih mulus itu dihimpit oleh dua pria kasar. Prita, dibawah ancaman, terpaksa menonton adegan mengerikan itu dengan air mata bercucuran. Tapi meski begitu diam-diam adegan panas itu membawa perubahan pada tubuh Prita. Tubuh Prita mulai panas dingin menyaksikan tubuh telanjang Frida digumuli begitu rupa, detak jantungnya mulai meningkat dan nafasnya menjadi tidak teratur. Disuguhi adegan sensual semacam itu mau tak mau membuat gairah seksual Prita bangkit.


“Gimana Prit..? Kamu suka kan dengan siaran langsung ini?” Herman mendengus tepat di telinga Prita. Meskipun Prita tidak menjawab, tapi Prita harus mengakui kalau dirinya mulai terangsang menyaksikan temannya ditelanjangi dan digeluti seperti itu. Dan Herman yang banyak pengalaman segera tahu saat melihat perubahan pada diri Prita.


“He.. he.. he.. pingin ya?” Herman tertawa. “Kalau gitu boleh deh..”


Herman lalu meletakkan mandaunya di lantai, lalu sambil tetap menonton Frida digarap oleh kedua temannya, Herman mulai menyerang leher dan pundak Prita dengan kecupan-kecupannya. Prita langsung bereaksi ganjil menerima kecupan itu.


“Ohh..” Prita mendesah saat bibir tebal Herman menyusuri leher dan pundaknya. Prita menggeliat geli saat Herman mulai menjilati daerah leher dan pundaknya dengan lidah. Antara jijik dan terangsang Prita kembali mendesah.


“Enak kan Prit?” kata Herman yang kian liar. Kali ini Herman tidak hanya menyerang daerah leher dan pundak Prita, tangannya yang kasarpun mulai bergerak menyusup ke balik BH tipis Prita. Prita langsung mendesah saat tangan liar itu meremasi payudaranya. Sentuhan pada payudaranya membuat Prita menyerah. Dia tidak tahan lagi untuk mendesah nikmat.


“Ohh.. oohh.. aahh.. ahh..” desahan penuh kenikmatan di tengah isakan tangis meluncur dari bibir mungil Prita tanpa bisa dicegah saat Herman meremas-remas payudara Prita. Apalagi saat jari-jari pria kasar itu mulai menyentuh dan memainkan puting payudaranya. Tiap sentuhan jari Herman pada daerah peka itu membuat Prita menggeliat menahan rangsangan yang kian menghebat. Gerakan tangan Herman pada sekitar wilayah dada Prita membuat BH yang dikenakan Prita melorot dari tempatnya sehingga payudara Prita yang putih kenyal langsung mencuat telanjang dan bergoyang seirama dengan gerakan remasan tangan Herman.Cerpen Sex


Tidak puas hanya dengan meremasi payudara Prita, Herman meneruskan serangannya pada daerah kemaluan Prita. Semula Herman hanya mengelus-elus bagian paling rahasia presenter cantik itu dari luar celana dalam tipis yang dipakainya. Tapi kemudian Herman mulai menyusupkan tangannya ke balik celana dalam wanita itu. Dielusnya permukaan vagina presenter itu, rambut-rambut halus terasa di ujung jarinya, lalu pelan-pelan jari Herman mulai membelah bibir vagina Prita dan mulai mengaduk-aduk bagian yang paling dijaga oleh wanita tersebut.


Prita menggeliat menahan sensasi seksualnya yang kian meledak. Desakan seksual yang kian menggebu itu membuat tubuh Prita seolah membengkak bagai balon gas yang ditekan ke segala arah.


“Ohkh… ohh.. ahh..” sekuat tenaga Prita menahan desakan birahinya yang kian menggila sampai wajahnya merah padam. Di depan mereka, keadaan Frida juga tidak kalah menyedihkan. Tubuh putih mulus Frida yang telanjang bulat dihimpit oleh dua sosok kasar dan berkulit legam. Fridapun mengalami rangsangan seksual yang tidak kalah gilanya, apalagi saat Gayong dan Eddy memaksanya untuk berdiri dengan kaki mengangkang lebar, kemudian secara bergantian kedua pria itu mengelus-elus daerah kemaluannya. Bagian tubuh yang paling rahasia itu diraba-raba dan diremasi secara bergilir, membuat Frida merinding, tubuhnya.menggeliat merasakan sensasi nikmat yang kian menjalari tubuhnya. Sesekali juga jari tangan Gayong dan Eddy menusuk-nusuk dan mengaduk-aduk liang vagina Frida mencari titik-titik paling sensitif pada daerah rahasia itu.


“Ahh.. oohh..” Frida mengerang tertahan saat Gayong berhasil menyentuh klitorisnya yang sangat peka rangsangan.


“He he he.. Enak kan Frid?” Gayong tertawa mengejek sambil terus mengaduk-aduk kemaluan Frida. Pelan-pelan vagina presenter itu mulai basah oleh cairan kewanitaannya. Hal itu menandakan kalau Frida sudah siap untuk disetubuhi.


“Uhh.. basah juga akhirnya.. Cewek dimana-mana sama saja.. Sok jual mahal padahal kepingin.” Gayong tertawa mengejek. Frida diam saja meskipun sebagai wanita terhormat dia merasa terhina luar biasa oleh ucapan itu. Kenikmatan yang diperolehnya sedikit banyak membuatnya tak melakukan perlawanan meski direndahkan sedemikian rupa. Frida merasakan sensasi yang diperolehnya dari kedua orang itu seolah membuat kesadarannya beku. Kenikmatan itu terasa sangat memabukkan, bahkan suaminya sendiripun tak mampu merangsangnya seperti yang dilakukan oleh Gayong dan Eddy. Hal itu membuat tubuhnya ingin memperoleh kenikmatan lebih banyak lagi meski pikiran sadarnya mengatakan kalau hal itu adalah salah.


Gayong dan Eddy, yang mengetahui kalau Frida sudah terangsang berat, menjadi makin ganas dalam merangsang presenter cantik itu. Kocokan demi kocokan melanda vagina Frida sementara payudaranya yang putih kenyalpun terus menerus diremas, dicubiti dan dikenyot-kenyot oleh kedua pria itu. Frida akhirnya tak tahan lagi, sensasi seksual di dalam tubuhnya terlalu kuat untuk dia tahan, maka meski sekuat tenaga Frida menahan sampai wajahnya merah padam, desakan seksual itu bagaikan cabikan cakar singa merobek pertahanan terakhirnya.


“OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!” Frida melolong keras, melepaskan orgasme yang sedari tadi ditahannya. Tubuh telanjangnya yang putih melengkung dan mengejang selama beberapa detik, dan seketika itu pula cairan vaginanya deras mengucur membasahi daerah selangkangannya. Sesaat tubuh putih mulus itu kaku seperti papan sebelum kemudian melemas dengan sendirinya dan terpuruk ke lantai.


Pada saat yang hampir bersamaan, Prita juga tengah berjuang menahan desakan birahi di tubuhnya. Tubuh Prita yang sedang terangsang hebat oleh perlakuan Herman itu menyentak-nyentak dan menggeliat-geliat. Herman tahu keadaan Prita, karena itu dia makin bersemangat mengobok-obok wilayah pribadi presenter itu. Prita makin tak bisa mengendalikan diri saat Herman berhasil menemukan daerah klitorisnya. Sentuhan pada daerah paling sensitif itu membuat pertahanan Prita runtuh, tubuh wanita cantik itu gemetar, nafasnya tersengal-sengal, erangan penuh nikmat meluncur tak tertahankan dari bibirnya yang menggemaskan. Desakan orgasmenya bagaikan air bah yang menggelora berusaha menjebol dinding pertahanannya. Tapi sensasi itu terlalu kuat untuk dibendung. Bagaimanapun kuatnya bertahan, pada akhirnya Pritapun menyerah.


“OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!” Prita mendesah keras saat orgasmenya meledak. Tubuhnya melengkung ke depan membuat payudaranya kian mencuat ke depan. Tubuh presenter berwajah imut itu menyentak-nyentak tertahan oleh tali yang mengikat tangan dan kakinya. Orgasme Prita meledak dengan hebat, seketika celana dalamnyapun basah oleh cairan vaginanya yang mengalir deras.


Prita terkulai lemas setelah sensasi seksualnya memudar. Dia menangis sesenggukan, perasaanya campur aduk antara marah, malu dan terhina, tapi sekaligus juga merasakan kenikmatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kondisi itu membuat Prita tidak melawan saat Herman mengangkat wajah cantiknya dan melumat bibirnya yang mungil selama beberapa lama.


“Nah.. Bagaimana Sayang?” Herman membelai rambut Prita. “Enak kan..?”


Prita memalingkan wajahnya dan menunduk. Herman tertawa pelan.


“Nggak usah pura-pura.” Herman mengejek. “Sekarang kita lanjutkan tontonannya ya?”


Prita menggeleng dengan wajah ketakutan. Tapi Herman memberi isyarat untuk diam dengan tatapan matanya yang bengis.


Herman lalu memberi kode pada Gayong dan Eddy yang menunggu. Senyum liar mengembang dari wajah kedua pria kasar itu.


“Ohh.. yes..” Gayong berseru. “Sekarang siap-siap ya Frid..” kata Gayong datar. Dengan gerakan terburu-buru, Gayong melepas seluruh pakaiannya sampai bugil. Sontak penisnya yang legam dan berurat tegak mencuat seolah mengancam.


“Sekarang Frid..” Gayong menarik lengan Frida dan memaksa presenter berwajah manis itu berlutut di hadapannya. Posisi wajah Frida tepat berhadapan dengan penis Gayong, seolah penis itu adalah sebuah mikropon yang disodorkan kepadanya.


“Emut nih punya saya..!” kata Gayong datar, seperti menyuruh pembantu mengerjakan pekerjaan sederhana. Frida yang masih shock spontan melengos jijik. Kesadarannya menolak menolak melakukan hal yang baginya sangat menjijikkan itu. Suaminya sendiri sekalipun belum pernah memintanya melakukan hal semacam itu, apalagi yang memintanya sekarang adalah orang yang sama sekali tidak dia kehendaki.


“Ayo diemut!” perintah Gayong kasar saat melihat Frida diam saja.


“Jangan Pak.. saya nggak mau..” Frida menggeleng sampai air matanya bertetesan.


Gayong dengan jengkel menjambak rambut Frida dan menyentaknya keras, membuat Frida mengernyit dan merintih kesakitan.


“Mau membantah ya?” Gayong memutar wajah Frida sampai menghadap ke arah Prita. “Kamu lihat tuh temanmu.”


Frida menggeleng ketakutan, air matanya kian deras mengalir saat melihat keadaan Prita yang tidak kalah menyedihkannya. Terikat di kursi, setengah telanjang dan direndahkan sedemikian rupa. Masih sempat dilihat oleh Frida bagaimana Herman dengan gaya melecehkan meremasi payudara Prita yang telanjang. Frida merasa hidupnya sudah berakhir saat itu. Dia hanya bisa menggeleng dan menangis tersedu seolah tidak percaya pada apa yang terjadi padanya, seolah sedang berharap kalau kejadian mengerikan ini hanya mimpi buruk yang akan berlalu jika dia bangun. Tapi ketika menyadari ini bukan mimpi, Frida akhirnya hanya bisa pasrah.


“Ayo, jangan malu-malu.” kata Gayong sambil menyodorkan penisnya di depan wajah Frida. Frida menatap wajah Gayong dengan tatapan memohon, tapi Gayong terus memaksa Frida untuk mengulum penisnya. Akhirnya, dengan gemetar Frida melingkarkan jemari tangan kanannya yang lembut pada batang penis Gayong yang legam itu. Besarnya pas segenggaman.


“Ohh.. ohh.. ehh..” Gayong mengejang saat jari tangan lembut presenter cantik itu mencengkeram penisnya. Frida diam sesaat, telapak tangannya mulai berkeringat saat memegang penis yang menegang keras itu. Kemudian dengan pelan-pelan Frida mulai menggerakkan tangannya mengocok penis itu. Kocokan lembut itu segera membuat Gayong merintih-rintih dan mengejang merasakan kenikmatan kocokan lembut Frida. Frida memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi nalurinya bekerja dengan baik untuk mengetahui apa yang harus dia lakukan. Maka saat Gayong menyuruhnya untuk mengulum penisnya, Frida melakukannya dengan patuh. Mula-mula Frida menjilati penis Gayong dengan lidahnya. Presenter cantik itu menelusuri setiap senti batang penis yang berurat itu dengan ujung lidahnya sambil tangannya terus mengocok penis itu dengan lembut.


Gayong mengerang-erang merasakan sensasi permainan lidah Frida. Apalagi saat Frida mulai mulai menjilati dan mengulum kepala penisnya yang hitam itu. Frida memperlakukan penis Gayong bagaikan permen lolipop. Dikulum-kulum dan dijilatinya penis itu dengan bibir dan lidahnya. Kadang Frida memasukkan batang penis Gayong ke dalam mulutnya yang mungil sambil disedot-sedot dan dikenyot dengan lembut sebelum kemudian dikeluarkannya lagi untuk dijilati. Rasa jijik sudah meninggalkan wanita cantik itu, akal sehatnya seolah membeku, saat ini yang bekerja dalam diri Frida hanyalah naluri seksualnya yang kembali menguasai tubuhnya.


Eddy yang sedari tadi bengong akhirnya mulai melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil. Lalu diapun ikut menyodorkan penisnya yang tidak kalah besarnya ke wajah Frida. Frida yang tahu maksudnya segera melingkarkan jemari tangan kirinya pada batang penis Eddy. Maka sekarang Frida makin sibuk mengocok kedua batang penis sekaligus sambil secara bergantian mulutnya mengulum kedua batang penis itu secara bergantian.


Prita hanya bisa menangis menyaksikan adegan yang sangat merendahkan martabat wanita itu. Dia menolak menyaksikan bagaimana sahabatnya dihina dan direndahkan ke tingkat yang paling nista semacam itu, tapi Herman terus memaksanya menyaksikan hal tersebut.


“Bagaimana Prit? Asyik kan?” Herman bertanya dengan tawa yang menyebalkan. “Kamu mau digituin?”


Prita terperanjat mendengar hal itu. Dia menatap Herman dengan pandangan menolak sambil menggeleng ketakutan. Tapi Herman justru melepaskan celananya sekaligus, sampai penisnya yang memang sedari tadi tegang langsung mencuat keluar.Cerpen Sex


“Nih.. emutin punya saya.!” perintahnya pada Prita sambil menyodorkan penisnya ke wajah Prita. Prita menggeleng sambil menangis ketakutan, tapi Herman terus memaksa dengan ancaman akan menyiksa Frida kalau Prita menolak. Tak tahan mendengar ancaman Herman, Prita akhirnya menyerah. Prita mulai membuka mulutnya. Tak tertahan lagi, penis Herman mendesak masuk ke dalam mulut mungil Prita. Herman mengejang sesaat merasakan sensasi kuluman Prita.


“Ohh.. ohh..” Herman mengerang nikmat. “Hati-hati, jangan sampai tergigit.”


Prita yang mulutnya penuh dijejali penis Herman hanya bisa melirik dengan berlinang air mata. Herman lalu menggerakkan pinggulnya maju mundur, membuat penisnya menyodok-nyodok rongga mulut Prita sampai mentok ke tenggorokannya. Sekuat tenaga Prita menahan keinginannya untuk muntah merasakan penis yang menjejali mulutnya. Sementara itu Herman makin gencar menggenjot penisnya, seolah sedang memperkosa mulut mungil presenter cantik itu. Kadang Herman memaksa Prita menggerakkan kepalanya membuat penis yang dikulumnya keluar masuk di dalam mulutnya. Sambil terus melakukan oral seks, Prita juga terus dipaksa untuk menyaksikan bagaimana Gayong dan Eddy mengerjai Frida.


Frida yang mulai terbiasa terlihat sudah mulai terhanyut dalam permainan seks yang dilakukannya. Frida tidak lagi terlihat canggung dalam mengulum maupun mengocok penis Gayong dan Eddy.


Tiba-tiba di tengah usahanya mengocok dua batang penis yang mengacung tegak itu, Gayong mencekal pergelangan tangan Frida membuat Frida menghentikan gerakan kocokannya. Frida kebingungan, dia menatap ke arah Gayong dan Eddy secara bergantian. Di tengah kebingungan Frida itulah Gayong mendekap tubuh telanjang Frida dan membaringkan tubuh putih mulus presenter cantik itu ke lantai papan yang dingin. Tahu akan mengalami hal mengerikan, Frida meronta mencoba membebaskan diri.


“Jangan Pak.. Jangan perkosa saya.” Frida menangis, mencoba membebaskan dirinya dari dekapan Gayong dan berusaha merapatkan kedua pahanya. Tapi Gayong lebih sigap dan mendekap tubuh mulus yang meronta-ronta itu dengan erat, rontaan Frida jelas tidak ada artinya bagi Gayong.


“Shh.. Jangan membantah Frid..” Gayong menekan tubuh Frida ke lantai dan menahannya tetap di lantai. “Kamu lihat itu..” Gayong menunjuk ke arah Prita yang sedang sibuk mengulum dan menjilati penis Herman. Frida benar-benar tidak berdaya melihat hal itu. Dia merasa dirinya benar-benar sepenuhnya dikuasai oleh keempat orang biadab itu. Nasibnya benar-benar tergantung pada mereka. Dalam keadaan putus asa Frida akhirnya memutuskan untuk pasrah, meski hati kecilnya menjerit, Frida tidak rela tubuhnya dijamah oleh pria yang tidak dia kehendaki.


“Jangan Pak.. Jangan sakiti teman saya..” Frida menangis memohon. “Perkosa saya saja! Perkosa saya!”


Prita yang masih sibuk melayani penis Herman tersentak kaget, nyaris dia menggigit penis yang dikulumnya. Tangisnyapun makin menjadi. Prita menggeleng ke arah Frida ketika pandangan mereka bertemu di tengah usahanya melakukan oral seks. Herman sontak tertawa penuh kemenangan mendengar ucapan Frida.


“Kamu dengar.. Temanmu bersedia tuh dijadikan pelacur.” Herman tertawa mengejek. Prita menangis dan memejamkan matanya tidak tahan melihat penderitaan sahabatnya. Tapi Herman tidak peduli dengan tangisan Prita. Dia justru makin buas memaksa wanita cantik itu mengulum penisnya. Bahkan kali ini Eddy yang semula mengerjai Frida sekarang bergabung dengan Herman. Eddy menyorongkan penisnya ke wajah Prita.


“Tuh. Gantian emut punya teman saya..” perintah Herman. Prita yang tidak punya pilihan, dengan keengganan luar biasa mulai menjamah dan mengulum penis Eddy yang tidak kalah ukurannya dibanding dengan penis Herman. Maka sekarang Prita terpaksa mengulum dua penis itu secara bergantian. Dan sambil mengulum kedua batang penis itu, Prita tetap dipaksa untuk melihat bagaimana Gayong yang tengah berusaha memperkosa Frida.


Gayong, yang telah menguasai Frida sepenuhnya, mulai menempatkan posisinya diantara tubuh Frida. Mula-mula Gayong membuka kedua tungkai Frida selebar-lebarnya dan menekuk kaki indah itu sedikit sampai posisinya mengangkang, membuat celah vagina Frida terkuak lebar. Gayong mengagumi keindahan belahan vagina Frida yang mulus sambil menempatkan diri diantara kedua belah paha presenter itu.


Pelan-pelan Gayong mulai menindih tubuh putih mulus yang telanjang itu. Gayong menggesekkan dadanya yang menekan payudara Frida, merasakan payudara Frida yang kenyal itu melawan dadanya dengan lembut. Gayong berdiam sejenak untuk merasakan kehangatan tubuh mulus Frida yang ada dalam tindihannya, membaui parfum mahal yang dipakai oleh presenter berwajah lembut itu.


Frida memalingkan wajahnya yang berlinang air mata. Ngeri, takut, malu dan terhina membuatnya tidak berani menatap Gayong, tapi Gayong segera membuat wajah manis Frida kembali berhadapan dengannya. Selama beberapa lama gayong mengagumi kecantikan dan kelembutan wajah itu, lalu pelan-pelan diciumnya bibir mungil Frida dengan lumatan ketat seolah ingin menyerap kenikmatan dari bibir presenter itu sebanyak mungkin. Selama beberapa puluh detik kedua bibir itu saling berpagutan dalam kuluman dan lumatan ketat. Dan sambil melumati bibir mungil Frida, Gayong mulai menggesekkan ujung penisnya pada kemaluan Frida. Lalu sedikit demi sedikit Gayong mendorongkan penisnya. Kepala penis itu pelan tapi pasti menerobos ke dalam liang vagina Frida.


“Ohhkk..” Frida mengerang ketika penis Gayong membenam seluruhnya di dalam liang vaginanya. Erangannya teredam oleh ciuman Gayong.


“Ohh.. ohh..”Gayong mengejang merasakan jepitan vagina Frida. Meskipun sudah bersuami dan memiliki anak, tapi vagina Frida yang terawat masih terasa sempit dan kesat, apalagi penis Gayong berukuran besar membuat Frida merasa vaginanya terasa penuh sesak dipaksa menerima penis Gayong. Frida merasa vaginanya terbelah, padahal vaginanya sudah basah oleh cairan kewanitaan. Rasa nyeri di vaginanya membuat Frida mengangkangkan kakinya lebih lebar lagi di bawah tindihan Gayong.


Gayong perlahan-lahan menggerakkan pantatnya menarik penisnya yang membenam di dalam liang vagina Frida. Rasanya seret sekali seolah vagina Frida mencengkeram penis Gayong dengan erat dan tidak mau melepaskannya. Lalu dengan sentakan kuat, Gayong mendorong penisnya kembali ke dalam liang vagina Frida.


“Ahkkh.. Ahh..” Frida mengerang kesakitan saat penis besar itu menyodok vaginanya dengan kasar. Tubuh telanjang Frida yang putih mulus menggeliat di bawah tindihan Gayong. Bagi Gayong hal itu makin menambah kenikmatannya. Gerakan tubuh Frida dan jepitan liang vaginanya adalah sebuah kenikmatan yang tiada taranya bagi Gayong. Setiap gesekan dinding vagina Frida di penisnya adalah sensasi luar biasa yang mampu melontarkan kesadarannya ke angkasa. Gayong sudah sering melakukan hubungan seks dengan berbagai tipe wanita, mulai dari wanita baik-baik sampai pelacur, tapi Gayong belum pernah merasakan seperti yang dirasakannya saat ini. Kenikmatan yang dirasakannya dari tubuh Frida jauh melebihi semua yang pernah dirasakannya dari para wanita yang pernah ditidurinya.


Gayong terdiam sesaat seolah sedang merasakan getaran yang muncul dari kemaluannya yang menyatu dengan kemaluan wanita cantik yang ada di dalam tindihannya. Gayong lalu menggerakkan pantatnya, menarik dan mendorong penisnya di dalam liang vagina Frida. Semula gerakannya pelan dan lembut, tapi pelan-pelan gerakan Gayong makin cepat dan makin kasar. Gayong merasakan gesekan penisnya pada vagina Frida makin lancar seiring dengan meningkatnya kecepatan genjotan yang dilakukannya.


Sentakan dan genjotan penis Gayong pada vagina Frida membuat presenter itu tak tahan untuk mengerang kesakitan. Vaginanya seolah tercabik karena dipaksa menerima penis Gayong yang besar dan kokoh. Tapi perlahan, rasa sakit itu mulai berubah menjadi sensasi yang membuat bulu kuduk Frida meremang. Gesekan penis Gayong pada dinding vaginanya membuat Frida merasakan sebuah sensasi luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan suaminya sendiri tidak pernah memberikan sensasi seperti yang saat ini dia rasakan. Akhirnya, tanpa disadari, desahan dan erangan yang keluar dari bibir Frida mulai berubah menjadi desahan dan rintihan manja dan mendayu, iramanyapun menjadi teratur seirama dengan genjotan penis Gayong yang menghentak vaginanya.


Baca Juga Cerita Sex Guru Bahasa Inggris


Menit demi menit berlalu, genjotan Gayong pada vagina Frida makin terasa lancar. Frida sendiri merasakan sensasi persetubuhannya berubah menjadi kenikmatan yang memabukkan. Tidak tampak lagi hal yang menunjukkan kalau presenter cantik itu sedang diperkosa, yang terlihat sekarang adalah sepasang anak manusia yang tengah melakukan hubungan seksual dengan penuh gairah.


“Kamu lihat itu Prit?” kata Herman mengejek sambil menjejalkan penisnya ke mulut Prita. “Temanmu kayaknya keenakan.”


Ucapan Herman membuat Prita makin bercucuran air mata. Dia tidak habis mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi. Yang dilihatnya sekarang tidak ada lagi perlawanan yang dilakukan Frida, malah yang ada justru Frida terlihat sangat menikmati persetubuhannya dengan pria kasar itu. Semangat hidup dan keberanian Prita menguap entah kemana menyaksikan bagaimana Frida bisa dipaksa menikmati perkosaan yang dialaminya.


Frida makin tak tahan merasakan kenikmatan persetubuhan yang dialaminya. Tubuhnya menggeliat-geliat di bawah tindihan Gayong, tangannya mencengkeram bahu Gayong yang kokoh. Tanpa bisa dicegah, Frida membenamkan kuku jari tangannya ke kulit bahu dan punggung Gayong sehingga meninggalkan luka goresan memanjang berdarah pada kulit punggung itu. Tapi gayong tidak merasakannya, sensasi seksual yang dirasakannya membuat rasa sakitnya seperti terlupakan. Yang ada justru Gayong merasakan sensasinya menambah semangatnya untuk menggenjot vagina Frida lebih kuat lagi. Tubuh Frida sampai tersentak-sentak liar setiap kali vaginanya disodok dengan keras.


“Ohkk.. ohhk.. ahkh.. ahhggh..” Frida mengerang-erang kesakitan sekaligus nikmat merasakan genjotan penis Gayong. Sensasi seks yang melandanya kian menggebu bagaikan ribuan banteng mengamuk yang berusaha mendobrak pertahanan terakhirnya. Tapi meskipun sekuat tenaga Frida menahannya, pertahanannya akhirnya jebol juga.


“AHHKH.. OHGGHH..!!” Frida mendesah keras. Tubuhnya melengkung dan mengejang dan menggelepar-gelepar, dinding vaginanya berkontraksi luar biasa hebat seolah ingin menghancurkan penis yang bergerak di dalamnya. Benteng orgasmenya akhirnya jebol, orgasme Frida meledak luar biasa seolah ada dentuman bom yang meledakkan tubuhnya dari dalam dan menghancurkan setiap ujung syarafnya.


Gayong merasa penisnya dijepit oleh tangan yang sangat kuat. Penisnya berdenyut keras seiring kontraksi dinding vagina Frida. Tak tahan menahan remasan vagina Frida, Gayong melenguh keras dan mengejang. Dengan kasar dia melesakkan penisnya sedalam vagina Frida mampu menerima dan menahannya kuat-kuat.


“OHKK..HH..” Gayong mengejang. “Crt.. crt.. crt..” sperma Gayong menyembur deras mengisi rahim Frida, rahim yang seharusnya terlarang baginya. Gayong mengejang dan mendengus-dengus merasakan ejakulasinya yang begitu hebat. Sperma Gayong menyembur begitu banyak memenuhi vagina Frida, saking banyaknya sampai sebagian spermanya meluber keluar membasahi selangkangan Frida.


Nyaris pada saat yang bersamaan, Herman dan Eddy yang tengah menggarap Prita juga tengah mengejang-ngejang merasakan kenikmatan kuluman dan kocokan Prita. Ketika hendak mencapai klimaksnya, Herman menjambak rambut Prita dan mengocok penisnya sendiri di depan wajah Prita. Eddypun melakukan hal yang sama. Prita yang tahu apa yang akan terjadi mencoba memalingkan wajahnya, tapi jambakan Herman terlalu kuat.


“Ohh.. Ohh..” Herman dan Eddy mengerang keras dan mengarahkan penisnya tepat pada wajah Prita.


“Crt.. crt.. crt..” sperma Herman dan Eddy menyembur deras menyemprot wajah imut Prita membuat presenter itu gelagapan. Sebagian cairan sperma itu mengalir ke bibir Prita. Prita terpaksa menelan sperma menjijikkan itu. Sementara itu Herman dan Eddy terus menyemprotkan sperma mereka, tidak hanya di wajah, tapi juga di bagian tubuh Prita yang lain, terutama pada payudara Prita yang montok dan kenyal.


“Ahh…” Herman dan Eddy melenguh penuh kepuasan merasakan ejakulasi yang begitu hebat. Keduanya sampai terpuruk lemas di lantai, membiarkan Prita yang sekujur wajah dan payudaranya berlumuran sperma. Cairan putih kental dan menjijikkan itu menetes-netes di dada Prita. Prita yang seumur hidupnya belum pernah mencium bau sperma, merasakan lengketnya cairan sperma, apalagi menelan sperma, langsung muntah-muntah.


Di depannya, Gayong yang menggumuli tubuh telanjang Frida masih tampak mengejang-ngejang merasakan kenikmatan ejakulasi yang dialaminya. Gayong mendengus-dengus seperti seekor kerbau terluka, menekan penisnya sedalam mungkin di liang vagina Frida, menuntaskan semburan spermanya mengisi rahim wanita yang sedang diperkosanya. Selama beberapa menit Gayong terus menekan penisnya di dalam vagina Frida, ingin merasakan kehangatan tubuh mulus sang presenter sebanyak yang dia bisa sembari menghujani bibir mungil Frida yang merintih-rintih.


“Ahh..” Gayong menegakkan badan diiringi lenguhan puas. Selama beberapa saat dipandanginya tubuh telanjang Frida yang terlentang lemas. Dari vagina Frida terlihat ceceran sperma Gayong yang meluber tak tertampung.Cerpen Sex


“Ohh.. Tempik cewek kota emang mantap..” kata Gayong yang menggelosor di lantai, kelelahan, tapi sangat puas bisa menikmati kemulusan tubuh Frida. Meski sudah tidak perawan, tapi kenikmatan bersenggama dengan wanita seperti Frida Lidwina tentu sangat jauh bedanya jika dibandingkan dengan semua wanita yang pernah ditidurinya.


Sementara itu, Frida yang kesadarannya mulai pulih, meledak tangisnya. Dia merasa dirinya telah hancur, kotor dan tercemar. Kehormatannya yang dia jaga telah tercabik secara paksa oleh pria yang tidak dia kehendaki. Frida makin terasa hancur setelah ingat kalau hari ini adalah masa suburnya, yang itu berarti dirinya kemungkinan besar akan hamil akibat perkosaan yang dialaminya.


Sementara itu, Sam yang dari tadi tidak kebagian apa-apa karena bertugas merekam perkosaan yang dilakukan Gayong terhadap Frida, meminta bagiannya. Dia bertukar tugas dengan Eddy. Dia sendiri, karena sudah terangsang berat, segera melucuti pakaiannya dan tanpa malu-malu bertelanjang bulat di depan banyak orang. Kemudian Sam mendekati Frida yang masih terbaring lemas di lantai.


“Sekarang sama saya ya Frid..” kata Sam dengan cengar-cengir mesumnya. Frida hanya bisa menggeleng menolak keinginan Sam, tatapan mata Frida meredup dan pasrah.


“Jangan Pak.. jangan.. saya nggak kuat..” Frida merintih lemah, tapi rintihan Frida jelas tidak akan mungkin menghentikan Sam yang sudah terangsanp berat. Ditelungkupkannya tubuh telanjang Frida yang putih mulus itu kemudian dipaksanya reporter cantik itu untuk menungging dengan bertumpu pada lutut dan sikunya. Posisi itu membuat pantat Frida berada lebih tinggi dari kepala wanita itu. Sam meneguk ludah melihat pantat Frida yang mulus.


“Ohh.. ini baru namanya pantat.” Sam mengelus-elus dan meremasi pantat Frida yang padat dan mulus. Pantat presenter itu tentu sangat berbeda dengan pantat pelacur yang sering dipakainya. Sam dengan gemas meremas-remas pantat yang kenyal dan padat itu. Sam bahkan menampar-nampar pantat yang membulat itu dengan keras, membuat Frida menjerit lemah tiap kali pantatnya ditampar. Bilur-bilur kemerahan mulai menjiplak pada pantat putih mulus Frida.


“Ohh.. memang montok banget nih pantat.” kata Sam sambil terus meremasi pantat Frida. Kemudian Sam merenggangkan kedua paha Frida, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Sisa-sisa sperma Gayong masih menetes-netes keluar membasahi paha Frida.


“Saya jadi pingin ngerasain tempik cewek kota nih..” ujar Sam dengan terengah menahan nafsunya yang kian menggebu.


“Jangan Pak.. jangan..” Frida menoleh ke belakang dan menggeleng saat merasakan benda tumpul menggesek-gesek bibir vaginanya. Tapi Sam tidak tahan lagi, dia segera mendorong pantatnya maju sambil menarik pantat Frida ke arahnya, membuat penisnya yang sudah tegang berkedut-kedut langsung melesak ke dalam liang vagina Frida dengan lancar.


“Ohhkk.. hh..” Frida merintih lirih merasakan vaginanya dijejali penis Sam yang berukuran besar. Air mata Frida kembali mengalir membasahi pipinya merasakan pedih pada selangkangannya, meskipun kali ini tidak sepedih seperti saat Gayong memperkosanya karena vaginanya telah licin oleh sperma Gayong dan cairan vaginanya sendiri. Sakit yang dirasakan Frida saat ini adalah sakit secara psikis karena dihina dan direndahkan sedemikian rupa.


“Ohh..” Sam melenguh keras merasakan kenikmatan cengkeraman vagina Frida. Penisnya berkedut-kedut merasakan denyutan dinding vagina Frida yang berkontraksi.


Pelan-pelan Sam menggerakkan pantatnya maju mundur membuat penisnya menyodok-nyodok vagina Frida, membuat wanita berambut pendek itu mendesah dan mengerang antara sakit dan nikmat. Bagi Sam, rintihan yang keluar dari bibir mungil Frida merupakan daya rangsang tersendiri bagi birahinya yang kian memuncak. Genjotan penisnya makin lama makin cepat dan makin kuat bahkan cenderung brutal membuat tubuh Frida tersentak maju mundur tiap kali penis Sam menyodok vaginanya.


Frida sendiri, yang telah mengalami orgasme, tidak lagi melakukan perlawanan birahinya yang ingin dipuaskan. Tubuhnya yang telah dikuasai gejolak seksual saat ini hanya ingin menikmati persetubuhan yang sedang dilakukannya. Meskipun pada awalnya terpaksa, tapi setelah beberapa saat, jelas terlihat kalau Frida sangat menikmati persetubuhan itu.


“Ohh.. ohh.. ahh.. ahh..” desahan-desahan manja meluncur dari bibir Frida seirama dengan genjotan penis Sam pada vaginanya. Wajah Frida yang putih tampak memerah merasakan dorongan birahinya yang kian meluap. Vaginanya kian banjir oleh cairan vagina yang membuat genjotan penis Sam jadi makin lancar memompa vagina Frida, membuat presenter itu kian melenguh-lenguh liar. Tubuhnya gemetar hebat merasakan setiap genjotan penis Sam. Frida sudah sepenuhnya dikuasai oleh dorongan birahi yang begitu hebat. Begitu hebatnya dorongan birahi Frida, terbukti tiap kali Sam menghentikan sodokan penisnya, secara tak sadar Frida menggoyangkan pantatnya sendiri, membuat penis Sam tetap memompa vaginanya.


Herman dan Eddy tertawa menghina melihat bagaimana Frida yang terangsang berat menggoyangkan pantatnya sendiri untuk membuat vaginanya terus disodok oleh penis Sam.


“Lihat tuh Prit..” Herman memaksa Prita melihat adegan tersebut. “Temanmu semangat banget tuh.”


Prita hanya bisa memejamkan mata sambil menangis. Prita tidak tahan menyaksikan penderitaan sahabatnya yang menggeliat geliat menahan sakit sekaligus merasakan kenikmatan persetubuhan itu. Sementara Frida yang sudah terhanyut oleh permainan Sam, akhirnya berkelojotan, pantatnya yang menungging menghentak-hentak dan bergoyang liar membuat penis Sam menyodok vaginanya dengan keras. Sam mengimbangi keganasan gerakan Frida dengan menggenjotkan penisnya sekuat-kuatnya. Begitu kuatnya sampai suara gesekan organ genital mereka yang bersatu terdengar berdecak-decak diiringi dengan desah dan erangan mereka. Frida akhirnya tidak tahan lagi, wajahnya menegang dan merah padam seolah mau meledak. Sekuat tenaga Frida menahan dorongan klimaks yang menghantam sekujur syarafnya, dia menggigit bibirnya mencoba bertahan tapi dorongan orgasmenya terlalu kuat untuk ditahan.


“AHHHKKH.. OHHH..!!” Frida melolong keras bagai srigala lapar. Tubuhnya melengkung ke atas. Wajahnya kian menegang. Tubuh telanjang Frida menggelepar liar sementara dinding vaginanya berkontraksi hebat meremas penis Sam. Sam merasakan penisnya berkedut-kedut tegang akibat kontraksi dinding vagina Frida yang meremas batang penisnya. Sam lalu menekan penisnya di vagina Frida sampai mentok dan menahannya kuat-kuat. Sam merasakan penisnya berdenyut keras.


“AHHKK.. OHH..!” Sam melenguh keras, spermanya menyembur deras di dalam vagina Frida, mengisi rahim wanita cantik itu dengan benih terlarang.


Frida yang meski merasakan kenikmatan orgasme, tidak bisa mencegah tangisnya, meratapi nasib buruk yang menimpanya, tidak hanya satu, tapi ada dua pria yang menggagahinya, mengisi rahimnya dengan benih terlarang, yang mungkin akan ada lagi pria yang akan menggagahinya. Frida tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika kelak dia benar-benar hamil akibat perkosaan yang dialaminya. Di pihak lain, Sam justru merasa senang bukan main. Di dalam hatinya, Sam bahkan benar-benar berharap agar bisa menghamili Frida. Alangkah bangganya Sam jika dia bisa menghamili Frida, itu berarti dia akan memperoleh keturunan dari seorang wanita yang tidak saja cantik dan terhormat, tapi juga cerdas dan terpelajar. Karena itu dia terus menunggingkan pantat Frida, memaksa rahim wanita cantik itu terisi dengan spermanya sebanyak mungkin sambil berharap benih yang ditanamkan di rahim Frida bisa berkembang. Setelah selesai melampiaskan nafsu bejatnya, Sam meninggalkan Frida tergolek tak berdaya di lantai. Tubuh putih mulus yang telanjang itu gemetar menahan sakit yang menderanya.


Selama beberapa menit, sebuah kesunyian yang aneh seperti memenuhi ruangan. Nyaris tidak ada suara sedikitpun, kecuali hanya isakan tangis Frida dan Prita. Bahkan anginpun seolah berhenti bertiup. Kesunyian yang ada terasa begitu mencekam, sepertinya alam sedang meratapi nasib tragis kedua reporter cantik itu. Kesunyian itu baru terpecahkan saat Herman memerintahkan Gayong dan Eddy untuk melepaskan tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Prita. Keduanya memotong tali-tali itu lalu menarik Prita berdiri kemudian mendorong presenter itu sampai tersungkur ke lantai. Prita mencoba berdiri meski dengan kaki gemetar. Slot Online Terbaik



“Uh.. Kamu jorok banget.” kata Herman saat melihat wajah dan tubuh setengah telanjang Prita yang masih berlumuran cairan sperma kental. Herman memberi kode pada Gayong yang langsung mengambil seember air dan menyiramkannya ke tubuh mulus Prita. Guyuran air itu membuat Prita gelagapan, tapi sekaligus juga menyapu sperma yang melumuri wajah dan tubuhnya. Basahnya tubuh Prita juga membuat gadis itu terlihat makin cantik dan segar, apalagi ditambah celana dalamnya yang ikut basah semakin transparan membuat belahan vagina Prita menjiplak sangat jelas.


“Oohh.. montoknya..” kata Herman. Lalu dengan gemas dia menarik BH dan celana dalam Prita sampai robek kemudian melemparkan pakaian terakhir Prita itu jauh-jauh. Sekarang presenter cantik itu telah sempurna telanjang bulat, tubuh putih mulus itu sekarang sudah siap untuk dinikmati. Eddy yang memegang kamera dengan gesit segera menyorot tubuh telanjang itu.


“Tunggu dulu..” Herman mencegah teman-temannya. “Biar dia baca dulu yang ini.” Herman menyodorkan kertas yang tadi diberikan pada Frida. Tangan Prita gemetar menerima kertas itu.


“Sekarang baca yang keras!” perintah Herman pada Prita. Prita menggeleng ketakutan.


“Jangan membantah.” Herman membentak, dia menunjuk ke arah Frida yang terkapar tak berdaya di lantai. Prita melihat sahabatnya dengan sedih, tangisnya makin keras. Keadaannya sekarang bertukar dengan Frida. Sungguh sebuah kengerian luar biasa sedang menunggu di depannya. Tapi Prita tidak punya pilihan lain. Maka dengan terpaksa, Prita mulai membaca tulisan di tangannya.


“Saya Prita Laura dari MetroTV menyatakan, apa yang saya lakukan ini adalah kemauan saya sendiri, tanpa paksaan dari siapapun.” Prita membaca dengan lancar, tapi datar tanpa ekspresi. Eddy menyorotnya dengan kamera. Lalu semuanya diam, meninggalkan sebuah keheningan Selama beberapa saat. Dalam keheningan itu mereka menatap dan menikmati kemolekan dan kemulusan tubuh bugil Prita.


“Ohh.. muluss..” mereka berdecak kagum menatap keindahan tubuh Prita. Prita memalingkan wajahnya, tangisnya makin keras.


Tanpa diduga, Herman tiba-tiba memeluk tubuh telanjang Prita dengan dekapan erat, lalu dia menghujani bibir mungil gadis itu dengan ciuman dan lumatan ganas. Prita berusaha meronta melepaskan diri, tapi tentu saja tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan dekapan Herman. Desakan bibir Herman membuat Prita megap-megap, bibirnya yang mungil menggemaskan terus menerus dilumat dan diciumi oleh Herman, kedua bibir yang sangat bertolak belakang itu terus menyatu dalam lumatan ganas selama beberapa menit, sementara tangan Herman yang kasar sibuk menggerayangi dan mengelus-elus punggung telanjang Prita yang mulus. Tidak sesentipun punggung putih presenter itu lepas dari rabaan tangan Herman.


Ciuman dan kecupan Herman kemudian berpindah ke leher Prita. Dalam sekejap saja jejak-jejak merah mulai menjiplak pada leher bening itu. Ciuman Herman kian liar dan akhirnya menyerbu payudara Prita yang menggantung indah. Payudara yang mulus dan kenyal itu dilumatnya dan dijilatinya dengan rakus, sementara tangan Herman mencaplok payudara Prita yang masih bebas, dan dengan kekuatan tangan seperti seorang pegulat, Herman meremasi payudara gadis itu dengan penuh nafsu.


“Ahhs.. ehkh.. ehhss..” Prita mendesis-desis merasakan jilatan lidah Herman pada puting payudaranya. Mau tidak mau jilatan pada daerah sensitif itu membuat tubuh Prita bereaksi. Di luar kemauannya, tubuhnya memberi respon pada rangsangan yang diberikan oleh Herman, apalagi tubuh Prita pernah mengalami orgasme sebelumnya, membuat rangsangan Herman cepat membangkitkan gairah seksual Prita. Karena itu, secara naluriah Prita merespon dengan menjambak rambut Herman dengan desahan penuh nafsu, bukan untuk menolak perlakuan Herman, tapi justru untuk meminta lebih. Hal itu membuat cumbuan Herman pada payudara Prita makin ganas. Herman bahkan mencaplok payudara mulus itu dengan rakus dan mengenyotnya kuat-kuat. Saking gemasnya, Herman mencengkeram payudara gadis itu dan meremasnya kuat-kuat, membuat Prita menjengit dan merintih kesakitan tapi sekaligus nikmat.


Kenyotan dan remasan Herman pada payudara Prita berlangsung selama beberapa menit sebelum mengalihkan serangannya ke bagian perut Prita yang licin dan rata. Jilatan lidah Herman menyapu hampir seluruh bagian perut yang putih ramping itu, dan kemudian meluncur ke bawah mengarah ke selangkangan presenter cantik itu.


“Ohh.. ohh.. ahss..” Prita mendesah saat Herman memaksa dia membuka paha lebar-lebar lalu menelusuri daerah kemaluannya yang ditumbuhi rambut halus dengan lidahnya. Sesekali Herman juga menggunakan jarinya untuk mengaduk-aduk vagina yang masih perawan itu.


“Ohh.. aahh.. ahh..” desahan Prita makin tak terkendali saat Herman menyentuh klitorisnya yang sangat peka rangsangan. Setiap sentuhan Herman pada titik sensitif itu membuat tubuh Prita menggeliat menahan kenikmatan yang menggila. Prita akhirnya tidak tahan lagi. Tubuhnya yang putih mulus itu mengejang diiringi sebuah erangan panjang.


“OHHKH.. AHHKK.. AAHH..!” Prita mengepalkan tangannya, tubuhnya menegang seolah sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang sangat besar dari tubuhnya. Seketika cairan vaginanya mengucur lagi membasahi selangkangannya. Tanpa jijik sedikitpun Herman menjilati cairan vagina Prita, sebab berdasarkan kepercayaan salah satu suku pedalaman, kalau dia bisa menghisap cairan cinta seorang perawan maka perawan itu akan mematuhi segala perintahnya.


Prita terengah-engah merasakan ledakan orgasmenya. Orgasmenya yang kedua jauh lebih hebat dari yang pertama, dan membuat tubuh Prita terasa lemas. Kakinya gemetar tidak kuat lagi berdiri. Prita langsung terpuruk tak berdaya di lantai. Tubuhnya yang telanjang bulat dan basah oleh air dan keringat terlihat sangat menggiurkan.


Mengetahui kondisi Prita yang masih terpengaruh oleh orgasme, Herman segera melepas sisa pakaiannya sampai bugil. Tubuh Herman terlihat kokoh dan kekar. Tato khas suku pedalaman menghiasi tubuhnya, sebuah bekas luka memanjang membelah dadanya membentuk garis diagonal. Kemudian Herman membaringkan tubuh telanjang Prita sampai terlentang dan membuka kaki gadis itu membuat vaginanya terkuak. Lalu tanpa memberi jeda, Herman segera menindih tubuh putih mulus itu. Prita merasakan himpitan tubuh Herman menekan tubuhnya dengan kasar membuatnya sesak nafas. Tapi Herman tidak memberi peluang sedikitpun pada Prita untuk bergerak. Herman segera memeluk tubuh mulus itu dengan erat dan menggumulinya dengan penuh nafsu sambil bibirnya melumat-lumat bibir Prita dan daerah sekitar leher dan bahu gadis itu. Sementara itu pantat Herman bergerak liar mencari-cari posisi liang vagina Prita, dan ketika penisnya yang kokoh telah menemukan sasarannya, Herman segera mendorongkan pantatnya.Cerpen Sex

“Ahhkkh..!” Prita mengerang kesakitan saat penis Herman melesak masuk ke liang vaginanya yang masih perawan. Prita merasa vaginanya dirobek secara paksa, rasanya pedih dan nyeri luar biasa, Prita sampai mengepalkan tangannya menahan rasa sakit yang mendera daerah selangkangannya.


“Ohh..” Herman melenguh nikmat merasakan penisnya membenam di kemaluan Prita. Ditatapnya wajah gadis cantik yang sedang dia perkosa itu selama beberapa saat, seolah sedang menikmati ekspresi Prita yang sangat memelaskan. Herman lalu menggerakkan pantatnya untuk menggenjot vagina gadis itu. Semula sulit sekali, meskipun vagina Prita sudah basah oleh cairan kewanitaan, tapi vagina itu terlalu sempit bagi penisnya yang besar, ditambah cengkeraman vagina gadis itu seolah tidak mau melepaskan penisnya. Prita langsung mengerang kesakitan tiap kali Herman menggerakkan penisnya mengaduk vagina presenter itu. Perlu usaha keras bagi Herman untuk menggenjot vagina Prita, dan itu berarti Prita harus merasakan nyeri luar biasa pada kemaluannya. Tapi setelah beberapa saat, gesekan kemaluan mereka yang menyatu menjadi lancar. Vagina Prita mulai menyesuaikan diri menerima sodokan penis Herman. Herman pelan-pelan makin meningkatkan kecepatan genjotannya, membuat tubuh Prita yang mungil tersentak-sentak. Seiring dengan itu, rintihan Prita makin berkurang dan berganti menjadi desah nikmat. Rupanya sensasi orgasme Prita masih mempengaruhi tubuh gadis itu, apalagi Herman memang pintar membangkitkan libido perempuan. Maka yang terlihat kemudian bukan lagi seorang wanita yang sedang diperkosa, melainkan seorang wanita yang tengah berusaha memuaskan pasangannya dalam sebuah persetubuhan yang panas.


Tidak puas dengan posisi yang monoton, Herman lalu mengangkat kedua paha Prita dan memposisikan paha yang mulus itu sampai mengangkang lebar mirip posisi kaki katak, membuat vagina gadis itu membuka lebar. Sambil menahan kaki Prita dengan kedua tangannya, Herman kembali menggagahi gadis itu. Posisi seperti itu membuat penis Herman lebih leluasa menyodok vagina Prita. Prita mendesah-desah merasakan setiap sodokan penis Herman. Prita hanya menuruti keinginan tubuhnya. Disamping tidak punya daya untuk melawan, diam-diam Prita juga menikmati persetubuhan yang baru kali pertama dirasakannya.


Sambil terus menggenjot vagina Prita, tangan Herman juga bergerilya dengan merabai dan meremas-remas payudara presenter itu. Herman juga mempermainkan puting payudara gadis itu dengan jarinya, kadang puting yang merah segar itu dia pilin dengan lembut, kadang ditarik-tarik bahkan dicubiti. Hal itu membuat Prita mengerang dan mendesah antara sakit dan nikmat.


Genjotan penis Herman ditambah remasan pada payudaranya membuat Prita tidak tahan lagi. Desakan orgasmenya mendesak-desak ingin keluar membuat tubuhnya yang mulus menggelepar-gelepar.


“Ohkkhh.. aahh..” Prita melolong keras merasakan gempuran orgasmenya. Teman-teman Herman yang melihatnya tertawa menghina.


“Dasar pelacur. Nolak-nolak tapi konak juga.” terdengar hinaan dari mereka yang membuat Prita merasa malu. Tapi Prita tidak bisa memungkiri, orgasmenya memang sangat kuat. Cairan vaginanya kembali membludak, kali ini berwarna kemerahan bercampur dengan darah keperawanannya. Tapi meskipun Prita sudah mengalami klimaks, Herman belum juga terpuaskan. Kali ini Herman memiringkan tubuh Prita, lalu Herman mengangkat sebelah kaki Prita dan menyampirkan kaki itu ke pundaknya. Sambil memegangi kaki mulus itu, Herman kembali menggenjot vagina Prita sampai tubuh mulus gadis itu tersentak-sentak.


“Ohh.. ahh.. ohh.. am.. puun.. ahh.. sudahh.. ohh.. sudahh..” Prita merintih-rintih memohon agar Herman menghentikan perkosaan terhadap dirinya. Deraan rasa sakit yang bercampur nikmat itu benar-benar membuat Prita kepayahan. Wajahnya merah padam menahan kenikmatan yang menggebu.Dan terlihat sangat memelaskan. Tapi Herman justru tertawa menghina.


“Ah, diam! Dasar pelacur!” Herman memaki sambil menggenjot vagina Prita lebih kasar dan lebih brutal dari sebelumnya. Tubuh Prita tersentak-sentak liar seirama dengan genjotan Herman.


Berpuluh menit lamanya Herman memperkosa Prita sampai gadis cantik itu tak kuat lagi merintih. Sedikitnya sudah lima kali Prita mengalami orgasme akibat perkosaan itu. Tapi entah jamu apa yang diminum Herman, pria itu mampu bertahan begitu lama. Tubuh mulus Prita lebih mirip boneka kain yang tak mampu bergerak kecuali hanya menggeliat lemah merasakan sakit pada vaginanya. Baru setelah Prita mengalami orgasme keenam kalinya, Herman mulai tak tahan. Tubuh Herman mulai mengejang.


“Ohh.. aahh.. ahh..” Herman mengerang. Dia membenamkan penisnya sedalam-dalamnya saat vagina Prita berkontraksi keras meremas penisnya, lalu diiringi lenguhan keras, Herman menyemburkan spermanya mengisi rahim presenter cantik yang sedang dia perkosa itu.


“Ahhggh..” Herman mengejang merasakan sensasi ejakulasinya yang amat hebat. Selama beberapa menit Herman mendiamkan penisnya di dalam vagina Prita dengan harapan agar benihnya bisa sepenuhnya terserap di dalam rahim gadis itu.


Tubuh telanjang Prita langsung terkulai lemas di lantai. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terasa sakit seperti baru saja diinjak-injak rombongan banteng mengamuk. Prita merasa sangat kotor dan hina. Benih terlarang Herman telah mencemari kesucian rahimnya yang dia jaga selama ini, apalagi mengingat kalau dirinya akan hamil akibat diperkosa.


Hanya sesaat Prita lepas dari penderitaan. Eddy yang tadi merekam adegan perkosaan Prita berganti tugas dengan Gayong.


“Sekarang bagian saya.” Eddy mendorong Prita sampai terlentang. Prita terpekik ketakutan dan berusaha menghindar, tapi Eddy segera menarik kedua kaki Prita dan membuka paha mulus itu lebar-lebar. Eddy meneguk ludah memandang kemulusan tubuh Prita yang telanjang bulat, terutama saat melihat vagina Prita yang berlumuran sperma dan darah keperawanan. Lalu dengan buas Eddy menerkam tubuh mulus itu dan menggelutinya dengan kasar. Prita hanya bisa meronta lemah di bawah tindihan Eddy, tubuhnya terlalu payah untuk melawan, karena itulah saat ciuman dan jilatan Eddy mendarat di bibir dan sekitar lehernya, gadis itu hanya bisa pasrah.


Selama beberapa menit Eddy memuaskan keinginannya menikmati bibir Prita yang menggemaskan. Kecupan-kecupan ringan disusul oleh lumatan ganas menghujani bibir mungil itu. Pada saat yang bersamaan Eddy juga mengarahkan penisnya ke vagina Prita. Digesekkannya ujung penisnya pada bibir vagina gadis itu sambil didorongnya maju. Pelan tapi pasti penis Eddy mulai menembus liang vagina Prita.


“Ehhkh..” tubuh telanjang Prita mengejang merasakan penis Eddy memenuhi vaginanya, kembali rasa nyeri menyebar dari selangkangan Prita membuat gadis itu menggeliat di bawah tindihan Eddy.


“Oghh.. ohh..” Eddy mengerang merasakan kenikmatan yang mengaliri tubuhnya saat dinding vagina Prita menekan penisnya. Eddy merasakan dinding vagina presenter cantik itu berdenyut keras seolah-olah membetot penisnya kuat-kuat. Eddy sampai melenguh-lenguh merasakan sensasi itu. Selama hampir satu menit Eddy mendiamkan penisnya membenam di dalam vagina Prita, seolah ingin memberi kesempatan pada gadis itu untuk ikut menikmatinya juga. Jeda yang cukup lama itu digunakan oleh Gayong untuk merekam ekspresi Prita yang memelas.


“Ohhkk.. ahh..” Prita merintih saat Eddy mulai mendesakkan penisnya maju mundur. Vaginanya seperti diaduk-aduk oleh sebatang besi membara. Prita merasa penis itu melebar menekan dinding vaginanya.


“Ehhkkhh..” Prita kembali menjerit lirih saat Eddy menekan penisnya lebih dalam. Seketika rasa pedih menyebar dari selangkangannya.


Kemudian proses yang sama terulang lagi dan lagi dengan kecepatan sodokan penis Eddy yang kian meningkat. Eddy merasakan gesekan penisnya pada dinding vagina Prita makin lancar, karena itu dia makin bersemangat menggagahi gadis cantik itu. Terus menerus selama beberapa menit Eddy menggenjot vagina Prita. Setiap sodokan penis Eddy membuat Prita merintih lirih, rupanya gadis cantik itu terlalu lemah untuk melakukan perlawanan. Tubuhnya yang putih mulus hanya bisa tersentak-sentak mengikuti gerakan pria yang sedang memperkosanya. Eddy makin gemas melihat wajah cantik yang terlihat memelaskan itu. Kegemasannya dilampiaskan dengan menggenjot vagina Prita sekuat-kuatnya sambil bibirnya sibuk melumati bibir mungil presenter itu.


Hampir sepuluh menit lamanya Eddy menggeluti tubuh telanjang Prita yang putih mulus sampai akhirnya Eddy memaksa Prita untuk menungging. Dengan doggy style membuat Eddy jadi lebih leluasa menggagahi presenter itu. Sambil memegangi pantat Prita yang mulus, Eddy menyodokkan penisnya kuat-kuat ke vagina Prita.


“Ahh.. aahh. oohh..” Prita merintih, antara sakit dan nikmat. Tubuhnya yang mulus tersentak-sentak maju mundur mengikuti gerakan Eddy. Payudaranya yang menggantung bebas itupun bergoyang-goyang mengundang nafsu.


Prita yang sudah kelelahan makin tidak berdaya diperkosa sedemikian kasar. Tubuh telanjangnya kini hanya bagaikan seonggok daging yang terlempar kesana kemari mengikuti gerakan pria yang memperkosanya. Rintihan-rintihannya telah banyak berkurang. Hanya wajahnya yang memelas bersimbah air mata yang menunjukkan betapa tersiksanya gadis itu. Tapi Eddy jelas tidak memedulikan bagaimana keadaan Prita. Yang diinginkannya hanyalah bagaimana bisa mereguk kenikmatan sebanyak-banyaknya dari tubuh gadis cantik itu. Eddy terus menggagahi presenter itu sekuat tenaga. Prita sampai meringis-ringis menahan penderitaan antara sakit dan nikmat yang melanda tubuhnya. Tapi seolah tahu keadaan Prita, Eddy selalu bisa menahan agar Prita tidak mencapai orgasmenya dengan cepat. Setiap kali Prita hampir mencapai klimaks, Eddy menahan gerakannya, membuat orgasme Prita tertunda. Hal itu terjadi berulang-ulang membuat Prita makin kepayahan.


“Eghh.. ahh.. Am.. punn.. oghh.. ahh.. Sudahh.. Tuannh.. sudaahh..” Prita mengerang-erang lemah memelaskan. Tapi erangan memelas dari gadis itu makin membuat Eddy kian ganas dalam memperkosa Prita. Tubuh telanjang gadis itu benar-benar tidak ubahnya sebuah boneka seks yang tersentak kesana-kemari tiap kali vaginanya digenjot. Hal itu terus berlanjut selama sepuluh menit sampai akhirnya Eddy yang tidak tahan.


“Ahh.. oohh..” Eddy melenguh keras saat merasakan vagina Prita berkontraksi hebat seolah menyempit mencengkeram penisnya. Eddy merasa seluruh syaraf birahinya menegang membuat tubuhnya seolah menggelembung ke segala arah. Dilihatnyang wajah Prita merah padam menahan desakan orgasme. Tubuh telanjang Prita yang mulus menggeliat dan mengejang selama beberapa detik.


“Ahhkkh.. oohh.. ohh..” Prita mengerang merasakan tubuhnya bereaksi. Syaraf seksualnya bergetar hebat, orgasme yang sedari tadi ingin dilepaskan kali ini meraung hebat seperti seekor hewan buas yang lepas dari kandangnya. Tubuh mulus gadis cantik itu menegang seperti patung perunggu di dalam dekapan Eddy.


“OHHH.. OHHH..” Prita melenguh merasakan orgasmenya yang tak terkendali. Vaginanya berdenyut keras mencengkeram penis yang menggenjotnya. Eddy melenguh-lenguh liar, tak tahan merasakan desakan ejakulasinya. Dihentakkannya penisnya kuat-kuat dan dibenamkannya dalam-dalam di liang vagina Prita. Diiringi lenguhan keras, sperma Eddy menyembur deras memenuhi vagina Prita, mengisi rahim gadis itu dengan benihnya.


“Ogghh.. ohh..” Eddy mengerang penuh kepuasan. Tubuh pria itu bergidik saat menuntaskan spermanya, mengisi rahim gadis itu dengan benihnya sebanyak yang dia bisa. Eddy merasa sangat puas, meskipun persetubuhan itu sangat melelahkan, tapi juga sangat memuaskan. Dalam hidupnya, inilah persetubuhan paling hebat yang pernah dialaminya. Setelah puas, Eddy membiarkan tubuh telanjang presenter cantik itu tergeletak tak berdaya di lantai.


Prita memejamkan matanya dan menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terguncang lemah mengikuti tangisannya. Prita merasa terguncang luar biasa. Tubuhnya seperti ditimbuni oleh tumpukan sampah, Prita merasa sangat kotor, tercemar dan tak berharga. Kehormatannya seperti terhempas ke titik yang paling rendah. Harga dirinya sebagai wanita terhormat dan terpelajar tercabik-cabik. Prita bahkan merasa dirinya lebih hina dari pelacur paling hina sekalipun. Tapi apa dayanya. Dirinya amat jauh dari pertolongan. Frida sahabatnya bahkan mengalami hal yang lebih buruk darinya. Dia juga jauh dari mana-mana. Prita bahkan tidak tahu di mana dirinya berada saat ini, seolah-olah dirinya telah terhapus dari muka bumi. Dia ingat salah satu kru Trans 7 yang sampai sekarang tidak ketahuan jejaknya. Prita menggeleng ngeri membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Di tengah segala kegalauannya, didengarnya Herman berkata.


“Ikat mereka..!”


Prita terkesiap pucat, tapi tidak sempat bereaksi, Sam, Eddy dan Gayong yang sudah berpakaian langsung menyergapnya. Dengan cekatan tali-tali kuat langsung membelenggu pergelangan tangannya di belakang punggung. Kedua wanita cantik itu terikat tak berdaya, masih dalam keadaan telanjang bulat. Bekas-bekas perkosaan masih terdapat pada tubuh mereka. Selembar lakban hitam membekap mulut mereka. Prita memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Herman.


“Kalian punya tempik yang istimewa ya..” kata Herman sambil mengelusi vagina kedua presenter cantik itu. Prita dan Frida mendesah sesaat merasakan elusan pada kemaluan mereka yang masih basah.


“Kebetulan. Ada yang mau membayar mahal untuk bisa ngentot sama perempuan-perempuan cantik seperti kalian..”


Prita dan Frida terperanjat pucat pasi. Mereka menggeleng ketakutan. Air mata mereka mengalir makin deras, membayangkan bencana besar yang menunggu mereka.

Cerita Sex Reporter yang Malang

Subscribe Our Newsletter